Tuesday,
December 16, 2014
2:00 AM
Dulu.. Dulu sekali..
Aku pernah mendengar cerita yang menginspirasi di sepertiga malamku.. Kali
ini.. Aku akan membaginya kepadamu.. Memberi tahu kepada yang ingin tahu..
Mengingatkan kepada siapa saja yang lupa.. Dan mengikatku agar selamanya ini
dapat menginspirasiku..
Malam itu.. telepon
genggam yang sedari tadi kupandangi layarnya, berdering menandakan ada
panggilan masuk. Senyumku mengembang begitu saja tanpa harus memakan coklat
atau es krim :D lucu bukan? Masa muda yang alhamdulillah sekali.. Entah perihal
apa yang kita bicarakan hingga pagi, tapi aku lebih banyak mendengar, hanya
sesekali menjawabnya, memberitahunya bahwa aku masih ada bersamanya untuk
mendengar apa yang ia katakan. Dulu.. Dulu sekali.. Apa yang dikatakan pria itu
adalah sesuatu yang benar, sejauh apapun aku berpikir maka aku akan selalu
menemukan kebenaran dalam kata-katanya. Jadi aku tak pernah menyela, dan tak
ada yang bisa kulakukan selain mendengarnya baik-baik. Egois memperkaya diriku
sendiri dan tak pernah mengimbanginya..
Pada intinya.. Aku
mendengar sebuah cerita darinya, jarang ia berbagi pengalaman yang sungguh
berarti dan begitu pribadi baginya terhadapku, tapi malam ini sepertinya adalah
sebuah pengecualian.
"aku pergi ke
madura.. Bertemu adik ku.. Dan
lihatlah.. Siapa yang tidak bangga melihat adiknya tumbuh dengan baik..
Bertutur kata halus dan sopan kepadaku.. Bercerita dengan menggunakan bahasa
krama alus, seakan membuktikan padaku bahwa ia menyampaikan ketulusan,
menghormatiku sebagai kakak nya. Ia baru kelas 4 SD, dan pemahamannya,
prilakunya sungguh membuatku bangga diantara rasa puasku meleburkan rindu
padanya.. Dan pada saat itu.. Ia menyuguhkan secangkir teh, yang aku tahu
kemudian bahwa ialah yang membuatnya. Bagiku, itulah teh ter-enak yang pernah
aku minum, aku harap tak akan pernah lupa rasanya. Tahu bahwa ia mungkin
menyeduhnya dengan rasa hormat dan kasih sayang yang tepat, membubuhinya dengan
segala rindu dan harapan kepada kakak-kakaknya. Ia baru kelas 4 SD tapi caranya
memuliakan tamu sungguh luar biasa, dan bagaimana mungkin aku tak bangga
melihatnya seperti ini. Adikku, tumbuh dengan baik, dengan segala pemahaman
yang ia punya dan dengan segala keterbatasanku menemani masa-masa terbaiknya
untuk menjadi dewasa. Pendeknya, aku
seperti tidak pernah melakukan apapun kepadanya selain mengunjunginya dengan
baik dan melihatnya dalam keadaan yang baik-baik saja. "
Dalam heningku
menyerap semua suara yang kau tuturkan, aku
merasa sendiri mu, harapanmu, kekacauan yang selama ini kau rasa dan
tanggung sendiri dibalik semua ketangguhan yang kau pamerkan. Yang bahkan dengan segala kekacauan itu aku
pernah sesekali merasa jengah, ingin berucap "bahwa tak apa sesekali
meletakkan segalanya dan berbagi denganku.. Bahwa tak apa sesekali merasa
lelah, dan marah dan berbagi denganku.." namun kenyataan bahwa kau sama
sekali belum mempercayaiku untuk itu semua selalu membuatku sedih, pada
akhirnya aku tahu.. Bahwa aku mungkin kau kira tak cukup kuat untuk menjadi
temanmu berbagi.
Pada malam itu aku
tahu sedikit tentang "keluarga" darimu.. Dan
Pada malam itu, aku
meneguhkan hati.. Bahwa aku akan
berusaha sebaik mungkin membantumu..
Dengan cara apapun yang ku bisa, berdiri disampingmu sebagai teman yang
akan bisa kau andalkan. Di belakangmu untuk selalu mendukung apapun langkah
yang ingin kau capai..
…. Membuat sebuah
keluarga yang utuh tak tercerai berai… memastikan semua anggota keluarga itu
memiliki pemahaman terbaik tentang kehidupan, waktu, kematian, cinta dan masih banyak lagi. Memastikan kapal
yang kau nahkodai mencapai tujuan yang tepat, selalu dalam lintasanNYA…….
Itu hanya sedikit
dari samudra keinginan yang ingin ku capai bersamamu..
Namun keinginan itu
belum tentu bisa tercapai sesuai dengan rencanaku. Maka ketika kau pergi,
"aku yang berdiri disampingmu" pun menemukan jalan buntu. Dan kau
benar, "….hanya perlu pindah lintasan bukan??" maka itulah yang aku
lakukan sekarang, dengan cara yang tersisa menurut pemahamanku. Doa untukmu.
Bahwa dengan
siapapun yang bersamamu saat ini, aku harap keinginanmu tercapai sesuai
ijinNYA.
Bahwa dengan
siapapun yang bersamamu saat ini, ia bisa jauh lebih baik dalam menemanimu dari
apa yang aku rencanakan dulu.
Dan kenapa aku
bercerita ini semua kepadamu.?
apakah dengan ini
aku berharap kau mengapresiasi ku?
Sama sekali bukan..
Karena aku masih
sering sedih jika mendengar masih saja ada yang tidak bisa menerima
ketulusanku.
Karena aku masih
sering sedih jika tahu masih saja ada yang salah paham terhadap perasaanku.
Dan aku bertambah
sedih mengetahui bahwa aku yang membuat mereka semua salah paham.
Mereka tidak
mengambil kesimpulan dan keputusan yang tepat karena mereka tidak tahu, jadi
sama sekali tidak bisa disalahkan. Namun aku yang tidak bisa membuat mereka
paham, dan membuat mereka salah pahamlah yang harus bertanggung jawab. Walaupun
aku tidak tahu caranya, aku tak akan berhenti mencari jalannya.
Bukan karena
repot-repot mengurusi perkataan orang lain. Tapi aku peduli rasa sakit dihati
mereka yang membicarakanku. Aku
menyayangi mereka semua.. Jadi aku tak pernah suka jika mereka sakit hati
apalagi karena aku.
Terakhir….
Dan apa kau pernah
tidak jujur padaku? Pernah, pasti pernah, terlepas kau sengaja atau tak ada
cara lain. Dan apa kau pernah menghindariku? Pernah, jelas pernah, terlepas kau
sengaja atau tak ada cara lain. Setiap orang
memiliki sisi gelapnya masing-masing. Setiap orang memiliki sisi buruknya
masing-masing. Tapi untukmu, ketika semua orang berkata buruk tentangmu,
tapi untukmu ketika kau melakukan
sesuatu yang menurutku buruk sekalipun, kau mungkin bisa tahu, bahwa aku tetap
berdiri mencintaimu di tempat yang sama yang sudah kau tingggalkan jauh
sebelumnya., kenapa? Jelas karena aku
mencintamu. Dan yang terpenting bahwa,
aku selalu bisa merasa kebaikan dalam dirimu.
Bahwa sejauh apapun kau melakukan kesalahan, kau akan bisa kembali dalam
keadaan stabil. Karena ALLAH ku selalu ada dalam hatimu, dan selalu bersamamu.
Read More......