Referral Banners

Selasa, 23 Desember 2014

Kisah dalam telepon


Tuesday, December 16, 2014
2:00 AM

Dulu.. Dulu sekali.. Aku pernah mendengar cerita yang menginspirasi di sepertiga malamku.. Kali ini.. Aku akan membaginya kepadamu.. Memberi tahu kepada yang ingin tahu.. Mengingatkan kepada siapa saja yang lupa.. Dan mengikatku agar selamanya ini dapat menginspirasiku..

Malam itu.. telepon genggam yang sedari tadi kupandangi layarnya, berdering menandakan ada panggilan masuk. Senyumku mengembang begitu saja tanpa harus memakan coklat atau es krim :D lucu bukan? Masa muda yang alhamdulillah sekali.. Entah perihal apa yang kita bicarakan hingga pagi, tapi aku lebih banyak mendengar, hanya sesekali menjawabnya, memberitahunya bahwa aku masih ada bersamanya untuk mendengar apa yang ia katakan. Dulu.. Dulu sekali.. Apa yang dikatakan pria itu adalah sesuatu yang benar, sejauh apapun aku berpikir maka aku akan selalu menemukan kebenaran dalam kata-katanya. Jadi aku tak pernah menyela, dan tak ada yang bisa kulakukan selain mendengarnya baik-baik. Egois memperkaya diriku sendiri dan tak pernah mengimbanginya..

Pada intinya.. Aku mendengar sebuah cerita darinya, jarang ia berbagi pengalaman yang sungguh berarti dan begitu pribadi baginya terhadapku, tapi malam ini sepertinya adalah sebuah pengecualian.

"aku pergi ke madura.. Bertemu adik ku..  Dan lihatlah.. Siapa yang tidak bangga melihat adiknya tumbuh dengan baik.. Bertutur kata halus dan sopan kepadaku.. Bercerita dengan menggunakan bahasa krama alus, seakan membuktikan padaku bahwa ia menyampaikan ketulusan, menghormatiku sebagai kakak nya. Ia baru kelas 4 SD, dan pemahamannya, prilakunya sungguh membuatku bangga diantara rasa puasku meleburkan rindu padanya.. Dan pada saat itu.. Ia menyuguhkan secangkir teh, yang aku tahu kemudian bahwa ialah yang membuatnya. Bagiku, itulah teh ter-enak yang pernah aku minum, aku harap tak akan pernah lupa rasanya. Tahu bahwa ia mungkin menyeduhnya dengan rasa hormat dan kasih sayang yang tepat, membubuhinya dengan segala rindu dan harapan kepada kakak-kakaknya. Ia baru kelas 4 SD tapi caranya memuliakan tamu sungguh luar biasa, dan bagaimana mungkin aku tak bangga melihatnya seperti ini. Adikku, tumbuh dengan baik, dengan segala pemahaman yang ia punya dan dengan segala keterbatasanku menemani masa-masa terbaiknya untuk menjadi  dewasa. Pendeknya, aku seperti tidak pernah melakukan apapun kepadanya selain mengunjunginya dengan baik dan melihatnya dalam keadaan yang baik-baik saja. "


Dalam heningku menyerap semua suara yang kau tuturkan, aku  merasa sendiri mu, harapanmu, kekacauan yang selama ini kau rasa dan tanggung sendiri dibalik semua ketangguhan yang kau pamerkan.  Yang bahkan dengan segala kekacauan itu aku pernah sesekali merasa jengah, ingin berucap "bahwa tak apa sesekali meletakkan segalanya dan berbagi denganku.. Bahwa tak apa sesekali merasa lelah, dan marah dan berbagi denganku.." namun kenyataan bahwa kau sama sekali belum mempercayaiku untuk itu semua selalu membuatku sedih, pada akhirnya aku tahu.. Bahwa aku mungkin kau kira tak cukup kuat untuk menjadi temanmu berbagi.

Pada malam itu aku tahu sedikit tentang "keluarga" darimu.. Dan
Pada malam itu, aku meneguhkan hati.. Bahwa aku akan  berusaha sebaik mungkin membantumu..  Dengan cara apapun yang ku bisa, berdiri disampingmu sebagai teman yang akan bisa kau andalkan. Di belakangmu untuk selalu mendukung apapun langkah yang ingin kau capai..

…. Membuat sebuah keluarga yang utuh tak tercerai berai… memastikan semua anggota keluarga itu memiliki pemahaman terbaik tentang kehidupan, waktu, kematian,  cinta dan masih banyak lagi. Memastikan kapal yang kau nahkodai mencapai tujuan yang tepat, selalu dalam lintasanNYA…….

Itu hanya sedikit dari samudra keinginan yang ingin ku capai bersamamu..

Namun keinginan itu belum tentu bisa tercapai sesuai dengan rencanaku. Maka ketika kau pergi, "aku yang berdiri disampingmu" pun menemukan jalan buntu. Dan kau benar, "….hanya perlu pindah lintasan bukan??" maka itulah yang aku lakukan sekarang, dengan cara yang tersisa menurut pemahamanku. Doa untukmu.

Bahwa dengan siapapun yang bersamamu saat ini, aku harap keinginanmu tercapai sesuai ijinNYA.
Bahwa dengan siapapun yang bersamamu saat ini, ia bisa jauh lebih baik dalam menemanimu dari apa yang aku rencanakan dulu.

Dan kenapa aku bercerita ini semua kepadamu.?
apakah dengan ini aku berharap kau mengapresiasi ku?
Sama sekali bukan..

Karena aku masih sering sedih jika mendengar masih saja ada yang tidak bisa menerima ketulusanku.
Karena aku masih sering sedih jika tahu masih saja ada yang salah paham terhadap perasaanku.
Dan aku bertambah sedih mengetahui bahwa aku yang membuat mereka semua salah paham.

Mereka tidak mengambil kesimpulan dan keputusan yang tepat karena mereka tidak tahu, jadi sama sekali tidak bisa disalahkan. Namun aku yang tidak bisa membuat mereka paham, dan membuat mereka salah pahamlah yang harus bertanggung jawab. Walaupun aku tidak tahu caranya, aku tak akan berhenti mencari jalannya.

Bukan karena repot-repot mengurusi perkataan orang lain. Tapi aku peduli rasa sakit dihati mereka yang membicarakanku.  Aku menyayangi mereka semua.. Jadi aku tak pernah suka jika mereka sakit hati apalagi karena aku. 

Terakhir….

Dan apa kau pernah tidak jujur padaku? Pernah, pasti pernah, terlepas kau sengaja atau tak ada cara lain. Dan apa kau pernah menghindariku? Pernah, jelas pernah, terlepas kau sengaja atau tak ada cara lain.  Setiap orang memiliki sisi gelapnya masing-masing. Setiap orang memiliki sisi buruknya masing-masing. Tapi untukmu, ketika semua orang berkata buruk tentangmu, tapi  untukmu ketika kau melakukan sesuatu yang menurutku buruk sekalipun, kau mungkin bisa tahu, bahwa aku tetap berdiri mencintaimu di tempat yang sama yang sudah kau tingggalkan jauh sebelumnya., kenapa?  Jelas karena aku mencintamu.  Dan yang terpenting bahwa, aku selalu bisa merasa kebaikan dalam dirimu.  Bahwa sejauh apapun kau melakukan kesalahan, kau akan bisa kembali dalam keadaan stabil. Karena ALLAH ku selalu ada dalam hatimu, dan selalu bersamamu.

Read More......

Selasa, 25 November 2014

To Be Continued... ( .. . . a.k.a Nganggur)

Dear Diary.. aku ceritakan tentang kencanku yang batal.. :D


Dia adalah teman satu angkatan ku, kami cukup dekat karena sama2 mencintai buku, bahasa, kata-kata. Tapi dia lebih parah. Di hari yang sudah kita sepakati ternyata allah belum mengiijinkan kami untuk jalan-jalan. Sore itu, aku hampir tidak bisa bangun dari tempat tidur karena dilep (kram perut saat haid). Dan dia meneleponku, bicara kalau-kalau acara kita bisa ditunda karena ia sedang flu. Aku hanya tersenyum dan menyetujuinya, seraya mengucapkan alasanku. Hari itu fix kita tidak kemana-kemana, hanya tiduran di kasur masing-masing.

Lama berselang, tibalah hari dimana aku harus menjaga mbak rima di rumah sakit, setelah kuliah dukun a.k.a peramalan pukul 8 malam aku ke rumah sakit tanpa tahu kalau disana sudah ada dea, om, mbak mila, wuah rombongan yee.. Karena ngrasa ga enak berada disitu serombongan, aku mencoba mencari udara segar di luar bangsal kamar, ketemu keluarga bu sumiyati yang besok akan operasi batu ginjal, anaknya mengucapkan terimakasih karena kemarin malam bersedia merawat, menebus obat sampe ambil darah dan iv buat ibunya. Kami mengobrol beberapa saat sampai beliau berpamitan masuk ke bangsal ibunya. Tinggallah aku sendiri di luar bangsal, dan karena ngeri dengan suasana dr. sutomo yang agak horror, aku kembali masuk dan berbicara ini itu bersama suster jaga, sampai akhirnya ponselku berdering tanda sms masuk..

"mbak jadi di jemput? "  (tadi aku sempat meminta bantuannya untuk menjemputku dan membawa mbak mila ke kosan, karena tidak enak jika berada disini serombongan, tapi eh ternyata aku tidak membawa kunci pagar, jadi ya percuma kalau pulang, masak iya mau lompat pagar --" )
"ndak jadi pak, maaf.. Gak bawa kunci pagar, jeki juga udah tidur jadi ga bisa nginep disana.."
"Aku di depan rumah sakit, kita ngobrol aja"

Nahlo… jadilah aku keluar dan mengobrol dengannya hingga subuh,  Bersama deretan-deretan keluarga lain yang menunggu pasien. Banyak hal yang ia bicarakan padaku, dan seperti biasanya, aku adalah pendengar yang baik hati, hwe hwe hwe…    dia  sudah seperti saudara sendiri, jadi bercerita macam-macam tak masalah buatnya. Dia sering  menggodaku.. Walaupun ia pada akhirnya akan berkata padaku.. "seserius aku bicara apapun.. Untuk soal hati.. Kau tak pernah mengganggapku serius.. Tapi anehnya, aku nyaman dengan itu, sehingga aku bisa bicara semauku tanpa harus memikirkan akibatnya.." dasar .. Ia egois bukan… hahaha

Ia pulang setelah solat subuh, dan siang itu aku masih juga merepotkannya.
Hari itu hari selasa dan salah satu temanku (Lia) mengundangku datang di acara resepsi pernikahannya, aku sudah menyanggupinya jadi sebisa mungkin aku tepati. Siang itu aku memintanya menjemputku di rumah sakit untuk mengambil beberapa barang di kost dan mengantar ku kembali ke stasiun, karena aku harus pulang ke pandaan.  Kami hampir saja ketinggalan kereta, tersisa hanya tiket komuter, itupun keretanya sudah datang, tapi alhamdulillah masih di ijinkan untuk pulang hari itu.  Jadilah aku mengejar kereta yang sudah setengah berjalan lambat akan meninggalkan stasiun. Salah satu ibu-ibu yang duduk di sampingku berkata.. "mbak-mbak.. Ngejar kereta kayak tadi kayak film india.. Kajol sama sharukh khan.. " aku tertawa pelan mendengar kelakarnya.. Aku mengiyakan.. Sambil mengingat-ingat film le jayenge.. Hahaha….

Sampainya di porong, priaku sudah menunggu dengan anggunnya di atas sepeda motornya, sambil bertanya mengerutkan kening "sudah berapa hari ndak tidur dan maksain pulang kesini?"
"kemarin lusa sama kemarin nda.. Gapapa.. Untung raganya buatan allah.. Klo jepang ya sudah mreteli.." jawabku menjawabnya dengan candaan.

Malam itu aku menghadiri 3 resepsi pernikahan sekaligus, wuah.. Seneng sekali ketemu temen-temen sekolah.. Lihat, dulu kalau ditanya siapa yang bakal nikah duluan, semuanya pada ogah.. Sekarang malah dulu-duluan..  Hahaaha….
Ada kejadian yang sedikit memalukan ketika aku pulang dari resepsi, ternyata pintu rumah terkunci, dan baru sadar kalau kunci rumah yang harusnya aku bawa ada di atas kasur.. (lupa) --" yang membawa duplikat kunci adalah ayah, sedangkan ayah sudah pulang kerumahnya.. Alamak.. Di tengah bingungnya itu.. Aku melihat pintu belakang yang hanya tertutup separuh, yang atas terbuka tapi  masih ada teralisnya. Dengan menyingsing kan lengan kardiganku, sekuat tenaga aku membongkar teralis yang terbuat dari kayu itu, berusaha untuk masuk ke dalam rumah. Sudah aku pastikan sekelilingku sepi dan tidak ada orang lewat pastinya di jam segitu, kalau tidak aku akan malu sendiri jika ada yang mendapatiku memakai longdress sepaket dengan hak tinggi ku dan membongkar teralis jendela. Apapun yang terjadi aku harus bisa masuk kerumah, jadi aku bisa balik ke surabaya malam ini.  Dan voila,, yang di khawatirkan lah yang terjadi.. Ada yang berjalan kearahku.. Menyunggingkan senyum jahil dan berkata.. "mbak ngapain? Masuk rumah sendiri kok dari situ? Kuat ta bukanya? Mau di bantuin? " lengkap sudah.. Pertanyaan dari thobroni membuatku kalang kabut.. Dengan malu aku menjawab.. " teruskan saja dek jalannya.. Anggep ga pernah liat aku kayak gini.. Hihihi.. Bisa kok bisa ngangkatnya.."  (aku dalam posisi menganggkat teralis jendela.. ) hahaha…. Aku malu….. Akhirnya ia hanya tersenyum dan menuruti permintaanku. Malam itu, akhirnya aku bisa masuk kembali ke dalam rumah dan menemukan kunci rumah yang tidur manis diatas kasur, pukul 21.30 aku kembali ke surabaya dengan diantar oleh nda, ia harus memastikan aku masuk ke dalam kos supaya yakin bahwa aku menuruti kata-katanya, untuk tidak bermalam di rumah sakit saat itu, 2 hari tidak tidur dan bolak balik pandaan sby dalam seharian cukup untuk membuatku terhuyung-huyung.. Ngantuk sekali.. Hehehe…. Hari itu aku menyadari.. Pentingnya untuk selalu bersyukur dalam keadaan apapun..   Karena jika tak ada allah bersamaku.. Aku tak akan mampu seperti ini.. :)

Sudah dulu ya,, Ace.. Besok lusa.. Jika aku sedang ada waktu luang..  Akan kuceritakan tentang Teh ter-enak.  Malam ini cukup dulu.. Karena besok aku dihadapkan oleh kuis 2 mata kuliah sekaligus..
Dear diary.. Doakan aku ya.. Supaya besok semua berjalan dengan lancar.. Sesuai ijinNya.. :)

Read More......

Minggu, 26 Oktober 2014

Atas Nama Tidak Ada Kerjaan a.k.a Nganggur


Seperti ketika ada yang bilang "tak bisa menolak sebatang rokok yang menyala diatas nama persahabatan" maka malam ini pun aku tak kuasa menolak segelas kopi hitam dari si bapak baik hati yang sedang menjaga ibunya di bed samping tempat mbak rima sedang istirahat. Walaupun tahu beberapa hari ini aku melewatkan jam tidur malam, mengonsumsi tugas kuliah diluar dosis, dan menghilangkan jam sarapan, tawaran tentang kopi tak pernah sekalipun membuat aku tak tergoda. Oke, semakin aku beralasan disini, semakin membuktikan bahwa - sederhananya, aku ingin mendapat kopi, layak minum kopi, dan dibenarkan. Tak peduli ini berefek atau tidak, habis perkara, titik.

(aku menulis kata Titik sebenarnya untuk sekadar mengingatkan bahwa kadang kala  tanda (.) itu juga harus diperlakukan semestinya dan seadil-adilnya   a.k.a dibaca, dilakukan sesuai maknanya a.k.a berhenti )


Dari yang aku simpulkan, jika membaca sampai disini, poin terakhir tentang titik, sudah di langgar. (:


Ini sama sekali bukan tentang aku yang tidak mau kau membaca ini semua, tapi hanya tentang aku yang ingin memberitahu tentang  apa yang sebenarnya ingin kau tahu, haha. (a.k.a kalau kau tidak ingin tahu, kau tidak akan melanjutkan membaca setelah melihat judul postinganku, itu jelas-jelas kau juga tak ada kerjaan, ups.)
Banyak hal yang ingin aku post tapi tidak sempat, (ini terdengar bohong sekali  jika di sandingkan dengan kata-kata di judul posting). Maka dari itu, aku akan mulai memberi tahu apa yang ingin aku post. Pertama foto dan cerita jalannya resepsi pernikahan keponakan dari ibuku,  tentang wisuda 110 beserta foto-foto dan cerita merah birunya. Sampai tentang ajakan kencan yang terus menerus batal hingga detik aku mengetik kalimat-kalimat ini.

****
Dear diary,  hari ini tanggal 15 agustus 2014. hari dimana mbak susi (keponakan dari ibuku, mungkin jika 'mas'  masih ingat - dia teman satu sma nya). Hari itu aku benar-benar kacau, salah perhitungan,  karena aku mengira bahwa  resepsi ini akan diadakan di hari sabtu dan begitu menyadari apa arti pertanyaan ibuk "sudah nyampe mana?" pada saat subuh waktu itu, aku sontak loncat dari kasur terhuyung-huyung menyingkat kegiatanku untuk segera naik ular besi menuju pandaan.  



Kau, apa kau bisa beri aku kalimat..? Apa itu sebenarnya menikah?
 
Meskipun aku tidak tahu benar dan berusaha menanyaimu saat ini, aku begitu gelisah saat memikirkan pernikahan.  Tiba-tiba saja aku ingin berlari sekencang-kencangnya, kemanapun, yang jauh pokoknya, yang tidak ada satu orang pun pernah mengenalku.  Entahlah, aku takut.  Aku ingin menikah, jelas. Tapi entahlah, ada sesuatu -  sesuatu yang sangat menakutkan dalam pikiranku, menakut nakuti, sehingga begitu saja aku ingin lari bukan hanya dari kata menikah itu saja, tapi semuanya.

Eniwey, aku menikmati setiap detik hari ini. Tertular kebahagiaan seisi rumah tentang pesta pernikahan. Sibuk mondar mandir menyapa tamu, membereskan sesuatu, dan memotret-motret.  Yang bikin capek itu Cuma satu. Dari jam setengah6 pagi setibanya aku di pandaan  sampai jam 11 malam pas pesta usai, aku mengenakan high heels, nah ini - biasanya ga bisa diem (kata orang inggris namanya pecitatan, haha), tetiba jadi kemayu pake high heels, alaamaak thank  you pegelnya, sukses tinggi dadakan meski ngabisin setengah isi bungkus pasta salonpas, wkwkwk. Quote nya Cuma satu : ojo dibaleni, phuahahaha….

*****

Dear diary, hari ini minggu tanggal 21 september 2014. hari dimana wajib bersenang-senang. Kau tahu kenapa? Karena ada syukuran wisuda 110 di jurusan.  Aku beri tahu satu rahasia kecil wanita, meski sudah punya baju satu almari penuh sampai kadang numpang di lemari tetangga karena saking ga cukupnya (alaaaah lebay) tetep aja klo mau pergi-pergi ngerasa ga ada baju sama sekali, krudung uda bejibuuun semua model ada, warna pelangi, sampe warna yang galau-galau juga ada (a.k.a ijo ga ijo kuning juga bukan, merah ga merah - pink juga bukan dsb dsb) eeeh tetep aja ngrasa kayak ga punya krudung. So, inilah sindrom yang menjangkitku pagi2 hari ini. Nadia Cuma duduk diatas kasur sambil ngeliatin aku mondar mandir bawa gantungan baju muterin cermin, ber puh-puh geli, hbs itu lebih memilih memeluk gulingnya lagi dari pada ikutan heboh.  Setelah bekerja susah payah keluar dari kekacauan pagi yang aku buat-buat sendiri, jadilah aku siap bernagkat pada pukul 11 siang. Bingung mau ke jurusan dulu atau jemput di graha. Akhirnya, karena dapet kabar kalau wisudawan pada belum keluar graha, aku dan nadia sepakat menuju graha, menunggu mereka di pintu keluar.

hal pertama yang aku lakukan disana adalah menajdi lady escort nya kentaang, haha. Datang-datang Ia langsung melepas topi toganya dan menyematkan di kepalaku seraya berkata "semoga cepat menyusul"  aku mengamininya kencang-kencang. :) trus foto bareng deh, tapi dasar banyak temen jail ya, pas di detik kepotret, topi toga yang tak pake malah di dorong melesak diatas kepalaku, alamaaak hancur sudah momen pertama siang panas-panas itu (a.k.a hot potato-potato, hahaha). setelah proses menunggu dan menyambut wisudawan-wisudawati usai, kita akhirnya pergi ke jurusan, disana sudah lebih banyak orang yang kita kenal, menunggu. kita sibuk berfoto, berpelukan kayak teletubies, ada yang gerak cepat dengan minta nomor ke mas mbak alumni menjalin koneksi super dadakan yang dibutuhkan buat jaga-jaga kalau ada lowongan strategis di perusahaan tempat mereka kerja, dan bla bla bla. ada juga yang sibuk menyusut hidung, berkaca-kaca, menjabat tangan dan saling bilang selamat.  acara selesai jam 2 siang. semua pulang dengan senyum dan sisa sisa air mata kebahagiaan. :)


*****

pada suatu tengah malam buta, dering bunyi  hape membuatku yang tengah asyik ketawa-ketiwi meyaksikan running man sejenak beralih memberi perhatian padanya.
m: mbak ayo kencan?
p: hah? sekarang? mimpi ta kamu pak?
m: haha, tahan sedikit lah kalau pean maunya sekarang. aku telpon boleh? klo yang ini skarang.
p: iya silahkan.

dan kemudian si 'm' itu telfon dan akhirnya kami memutuskan untuk pergi pada hari rabu minggu depan, ke toko buku. fyi, hari ini hari sabtu dini hari.  entah ada angin apa dia ingin pergi sama aku, setelah sekian lama dia menawarkan 'kencan' padaku. rupa-rupanya dia sudah jauh tidak pernah bersapa kabar dengan teman satu angkatan, dan sudah sewajarnya ia memanfaatkanku untuk memberinya semua daftar kabar dari teman-teman satu angkatan. alasan lainnya adalah karena ia ingin membicarakan sesuatu denganku (entah apa itu, sampai saat ini aku juga belum tahu). 

to be continued...

Read More......

Sabtu, 11 Oktober 2014

Mozaik


~ Yesterday is history..
And tomorrow is mystery..
I can see you looking back at me..
Keep your eyes on me..
Keep your eyes on me.. ~


You're back. Tak ada yang lebih membuatku bahagia dan sesedih itu.  Untuk mencintai orang yang sama selama bertahun-tahun, itu menakjubkan. Tapi untuk jatuh cinta berkali kali kepada orang yang sama, ini bukan hanya sekedar anugerah, begitu istimewa. Setidaknya itu yang ku pikirkan. Tidak ada kata-kata yang sangat tepat untuk membahasakan sesuatu. Tapi meskipun begitu, aku tetap menuliskan kalimat-kalimat ini. Semoga ada kemiripan dan arti yang mendekati dari apa yang kumaksudkan.

***

Suatu kali, ketika aku benar-benar menikmati waktu sendiriku dengan berdiam diri. Banyak pertanyaan yang muncul berulang ulang. Saat aku mengatakan dengan bebas dan tanpa malu-malu semua perasaan rinduku ini. Aku tampak mengerikan? Iya kan? Untuk apa semua kata-kata ini? Apa dengan segala yang kukatakan kau akan kembali? Waktuku akan terulang? Takkah ini semua hanya akan membuatmu frustasi?
Bukan, sama sekali bukan salahmu dan Aku minta maaf . .
Walau seberapa lama pun aku menangis dan merinduimu.. Jika ditanya apa mauku ? Jika ditanya bagaimana setelah ini? Jika di tanya tentang apa yang harusnya kau lakukan. Aku sungguh tak bisa memikirkan.  Kamu kembali ke sisiku? Tentu tidak.  Kamu bahagia dengan hidupmu? Itu sudah pasti inginku. Namun kenapa aku masih seperti ini? Aku tidak tahu.. Yang aku tahu adalah merinduimu, mencintaimu dengan segala doa yang aku pinta.. Bahagiamu..

***

Akhir-akhir ini kau sering datang ke mimpi di dalam mimpiku. Aneh bukan? Dalam keadaan sadar, berapa kalipun aku berusaha melukis bagaimana sosokmu.. Selalu saja hasilnya adalah samar. Aku lupa. Tapi jelas sekali, kau bercengkerama dalam mimpi-mimpiku. Tersenyum sabit. Berkelakar, tertawa dan khawatir. Diam. Aku mengingatmu.. Syukurlah, kau selalu baik-baik saja.. Iya kan? Kamu pasti baik-baik saja. Setidaknya dalam mimpiku sekalipun, kau masih bisa berkelakar, dan tersenyum renyah, yang aku artikan kau dalam keadaan baik-baik saja.

***

Kau tahu, Laki-laki yang selalu memperlihatkan sisi tangguhnya dihadapanku.. Ini buruk sekali efeknya menurutku. Karena aku sama sekali buta terhadap semua ketangguhan orang lain selain dirinya, atau di bawah dirinya. Lalu, apa kau bisa memberitahuku? Untuk apa semua ketangguhan itu aku butuhkan? Jika aku bisa saja menangguhkan diri dan berdiri persis seperti yang laki-laki itu  lakukan. Menyamainya, dan beres segala urusan tentang ketangguhannya yang membutakan itu. Ah, ini kacau sekali. "berharap" adalah sesuatu yang sangat menggairahkan dan menyakitkan dalam satu waktu. Setidaknya jika itu posisinya horisontal. Iya kan?.
Dan kau harus tau, supaya kau bisa memikirkan bahayanya. Bahwa, laki-laki itu ternyata kau.
***

Mozaik sedari tadi ini sebenarnya hanya mengalihkan rasa ke-kepo an ku saja. tentang siapa sebenarnya kau? orang lain ini memang tak pernah bisa memahamimu, seujung kuku pun. :') maka dari itu aku begitu kepo tentang ke-aku-an mu.  Karena meskipun ada banyak sekali tulisan di blog ini yang terlihat merujuk padamu, jika saja kau jeli, kau akan tahu bahwa semua ini hanya tentang aku.

Read More......

Rabu, 17 September 2014

Sakit dan Dekut Burung Kukuk… (Monday, September 8, 2014 8:36 AM)


Well.. Keadaanku sudah jauh membaik pada saat aku mengetik ini, hanya sedikit efek obat yang mulai membuat rasa kantukku timbul tenggelam.. Aku tidak bisa terjaga lebih lama lagi, kurasa. Disaat jadwal kegiatan yang padat antara pindahan, membantu dea pada ospeknya, wira-wiri dr. sutomo untuk menentukan tanggal operasi mbak rima, tubuhku memilih jalan yang lain. Demam tinggi, flu pada musim kemarau, diiringi satu dua kali muntah, aku terpaksa menuruti tubuhku untuk bedrest beberapa hari.  Menyudahi sejenak apa yang menyibukkanku dan hanya benar-benar bedrest. Membosankan memang. Hariku hanya berputar2 dari tidur , dan minum obat. Tapi aku harus benar-benar sembuh sebelum semua kegiatan yang ku tunda tertumpuk kewajiban-kewajiban baru yang tak mau kalah untuk diselesaikan. So, finnaly, bedrest is the best choice to choose.

Saat hanya bergulingguling tak ada kerjaan, bosan yang tak karuan rasanya, hidung mampet, dan perasaan mual yang naik keubun-ubun. Aku melihat onggokan buku cuckoo's calling. Novel terbaru  J.K Rowling setelah the red vacancy. ia memakai nama pena Robert Galbraith. Well, novel ini sudah lama sekali ingin aku baca. Tapi entah kenapa buku setebal 519 halaman ini hanya mampu aku baca sampai halaman 120 saja. Padahal sudah berbulan-bulan ada di meja ku.

Aku mulai membacanya dan mengagumi imaginasi dari tante galbraith ini, mengingatkanku betapa dulunya aku senang sekali membaca serial harry potter dan menggerutu tak puas melihat filmnya yang terpotong disana-sini. Mengingatkanku pula kenapa aku sedari dulu selalu mengagumi cara berpikir dari om sherlock. Buku ini ringan dan menghibur, membuat si pembaca mengikuti pusaran imaginasi yang diciptakan tante galbraith, kemudian tertuntun untuk ikut berpikir, menciptakan asumsi-asumsi. Daan cantik sekali. Akhirnya tak tertebak dalam sekilas bacaan.  Memperkenalkan paman cormoran strike, seorang detektif partikelir , anak dari sang raja rocker. Kemampuannya yang sistematis dan hati-hati sekali dalam menyusun semua bukti-bukti kejahatan.  Kehidupan cintanya yang porak poranda, masa lalunya yang memeluk tidurnya di dalam ranjang lipat di kantor kecilnya,. Dan Sekretarisnya yang cerdas.  Membuat buku ini menjadi magnet si pembaca menyaingi buku-buku pendahulunya.  Masalah yang terjalin disana-sini terjalin begitu ruwet, kematian Lula landry yang menjadi ekstase bagi kehidupan paman strike  yang terpuruk,  sampai ia dihadapkan oleh pembunuh psikopat yang mengancam banyak nyawa. Buku ini cantik sekali.. Imaginasinya.. Penggambaran kota london yang tanpa cela. Tokoh-tokohnya, konfliknya. Aku menikmati semuanya. Aku heran kenapa buku itu awalnya hanya berhenti kubaca sampai halaman 120. waktu luang yang sangat memadai kali ini berhasil membuatku membaca sisa dari buku ini dengan santai. Buruknya, ini hanya bertahan sampai pukul 2 dini hari dan selesai pada hari dimana aku berniat membaca. Kalau sudah begini, berarti besok aku harus siap-siap bongkar kardus lagi. Mencari buku novel-novel  tebal yang bisa dilahap.. Ternyata.. Bersantai, membaca buku-buku dan mengetik ini semua tidaklah hari yang buruk untuk dilalui. Semoga.. Besok bisa lebih baik lagi.. Kesehatan pulih.. Dan satu dua kegiatan yang sudah lama mengantre, terselesaikan dengan baik. Amin..


Nb: ada satu bait puisi yang diingat paman strike saat ia berada di rumah sakit tempat ia memeriksakan tungkai amputasinya..

Aku menjelma sebaris nama

Aku tak mampu rehat dari petualangan:
Aku mau mereguk tuntas hidup hingga tandas,
Sampai ampas; seluruh waktu telah kunikmati sehikmat-hikmatnya,
Telah melukaiku secuka-cukanya,
Baik ketika bersama mereka yang kucintai,
Atau saat aku sendiri menemani diri;
Di landai pantai, gugus bintang hyades berjatuhan bagai hujan petir
Menyalakan samar hampar lautan:
Aku menjelma sebaris nama. . .

Read More......

A Letter to GOD (Thursday, September 4, 2014 1:37 AM)


Ya Rabb.. Terimakasih telah kau hadirkan ia dihidupku..
Membimbingku lebih mencintaiMu dan memberitahu cara untuk selalu dekat denganMu..
Terimakasih untuk setiap waktu dalam hidupku..
Terimakasih untuk cintaMU yang telah memperkenankanku mengenal ia, hamba tersayang Mu..
Terimakasih untuk KasihMu yang telah memberiku kekuatan saat aku diambang batas..
Terimakasih untuk mengajariku cara mencintai melalui nya..

Ya rabb,,
Aku tak akan meminta engkau mempermudah perjalanannya disini.. Karena aku yakin bahwa Engkau tau yang terbaik untuknya..
Maka biarkan apapun yang Engkau rencanakan untuknya.. Membuatnya menjadi pribadi yang tangguh dan lebih mencintaiMu..

Namun ijinkan aku meminta sedikit untuknya..

Ya Kekasihku.. Aku mohon berilah ia kesehatan,
agar ia bisa menjalankan apa yang Engkau Titahkan.. Dan menjauhi apa yang Engkau larang..
Ya Kekasihku.. Aku mohon berilah ia rejeki  yang halal dan barokah.. Agar ia dapat mensejahterakan keluarga nya..
Tegurlah  ia ya robb.. ketika ia melampaui batas .. Sungguh engkau Maha mengetahui yang buruk dan yang manfaat..
Jadikan ia ayah yang terbaik bagi anak-anaknya.. Kakek terbijaksana bagi cucu-cucu nya..
Suami yang paling mengayomi dan mencintai istrinya..
Semoga ia dapat mewujudkan keinginannya.. Untuk menjadikan rumah tangganya sakinah, mawaddah.. Warahmah..

Berilah Kedamaian dan kelapangan hati padanya.. Kerendahan hati dan ketajaman berpikir untuk memecahkan permasalahan yang dihadapinya..
Jagalah lakunya ya rabb..
Bimbing ia untuk selalu melangkah diatas ridhoMu ya kekasihku…
Lindungi ia dimanapun ia berada..
Bantu ia untuk mengumpulkan semua bekal terbaiknya untuk bertemu engkau.. Yaa Raja ku..

Aku tahu Engkau menyayanginya lebih dari aku menyayanginya,,,
Maka perkenankan aku meminta kepadamu ya rabb..
Jika pada suatu kali nanti engkau memanggilnya kepelukanMu.. Berikan ia tempat terindah di SisiMu..
Maafkan aku yaa kekasihku,,
Terimakasih yaa rabb,, telah engkau pelihara kami dengan cinta kasihMU yang tiada berbatas..
Dan ampuni ia yaa rabb,, ia yang yang ku cinta..

Read More......

Rumah Kaca (Thursday, August 28, 2014 12:11 AM)


Dear diary,. .
"aku tau.. Kau pun juga tau.. Ketika begitu berat menahan..
Ketika hanya ingin bilang 'aku sayang kamu..'..
'aku sayang kamu..' hanya untuk memuaskan rasa..
tapi harus di tahan…"

Ketika hanya ingin bilang  'selama ini aku merindukanmu..'
Ketika hanya ingin bilang  'selama ini aku mengkhawatirkanmu..'
Ketika hanya ingin mengetahui 'apa kau baik-baik saja? '
Ketika ingin memuaskan rasa.. Memberitahumu bahwa aku telah melampaui ini semua..
Tapi hanya kata-kata yang mampu bertebaran..
Maka rumah kaca ini menjadi tempat ternyaman untuk ditinggali..


Rumah kaca yang aku kunci rapat-rapat..
Semua bisa membaca kesedihanku..
Tapi tak ada yang lebih kuharapkan memahaminya selain kamu..

Tempat untuk bersembunyi dan memeluk pekatnya malam..
Tempat untuk bercengkerama dengan keheningan..
Tempat untuk meneteskan air mata.. Meletakkan rindu yang meluap-luap.. Membeberkan kebahagiaan dan kesedihan..

Rumah kaca yang aku kunci rapat-rapat..
Semua bisa membaca kesedihanku..
Tapi tak ada yang lebih ku harapkan memahaminya selain kamu..

Tempat seutuhnya aku menemukan keakuanku..
Mercusuar untuk melabuhkanmu barang semenit dua menit..
Merayumu duduk sebentar menemani ku di selasar kata-kata..
Merasakan jatuh cinta  yang bertubi-tubi..
Berdoa.. Menangis,, tersenyum.. Belajar merelakan..
Dan kemudian... melepasmu..

Read More......

Tidak jadi berangkat _late post


Dear diary,
Aku mencobanya, selesai. Tiba-tiba ayah dengan garangnya tak mengijinkanku berangkat. Selesai. Aku berbalik dan membanting pintu. Menangis. Yang aku perjuangkan. Harus kurelakan di depan mataku. Lagi.

Aku harap masih ada banyak kesempatan yang tiba menghampiriku. Semoga. Semoga.

Read More......

Kamis, 28 Agustus 2014

Just Once by Soyu (eng. translt)

You blow into my hands and disappear
when it seems like I can catch you
Like the cruel wind,
you get farther away
The night I quietly cried
as I held onto my heart
My day passed as
sadness in the darkness
I difficultly erase and erase
but I’m draw you out again
The painful memories
make our love even sadder
No matter how much I hide it,
you fill up my eyes
The longing overflows
like my tears,
what do I do?
Will I be able to see you in my dreams?
If I anxiously wait, will I meet you?
I make a wish on
that lonely moon
Just once, just once more..
I say this alone
mixed with tears
I difficultly erase and erase
but I’m draw you out again
The painful memories
make our love even sadder
No matter how much I hide it,
you fill up my eyes
The longing overflows
like my tears,
what do I do?
You only come to me
in my sad dreams
I know, I know but I can’t
let you go even a little bit
I difficultly erase and erase
but I’m draw you out again
The painful memories
make our love even sadder
No matter how much I hide it,
you fill up my eyes
The longing overflows
like my tears,
what do I do?

Read More......

Rabu, 27 Agustus 2014

Hai.. Kamu..

hai kamu yang disembunyikan rapi-rapi oleh sang fajar...
hai kamu yang di peluk erat oleh sang rembulan..
semoga kau selalu baik-baik saja..
mengetik satu dua kata disini sungguh menggenangkan air mata..
dan kau akan selalu menemukanku seperti ini disini..
karena rumah ini tercipta untuk itu..


aku melihatmu ketika fajar.. berjalan mantap menujuku.. bersinar terang dan menyilaukan mata..
tersenyum hangat.. meneduhkan.. lalu menghilang sebelum bisa kupeluk erat..
kado termanis yang pernah ku dapat di hari ulang tahunku..


duduklah disini sebentar saja..
temani aku dalam heningmu yang khidmat..
kau bilang aku tak boleh menangis untukmu..
kau bilang jangan pernah menangis tanpa sepengetahuanmu..
maka temani aku disini sebentar saja..
aku ingin menangis...
disampingmu..




Read More......

Senin, 25 Agustus 2014

Rindu . . .


Tak ada cukup banyak waktu untuk merasakan yang menghujam-hujam di dada. Tak ada cukup temaram yang bisa menyembunyikan mataku yang sudah lama berkaca-kaca. Hanya karena ingin bertahan dalam keadaan "aku baik-baik saja" bahkan air mata itu hanya menggenang. Bersedia menahan lajunya untuk kering di pipi.

Mendadak khawatir, apa yang seharusnya tertulis disini. Pantaskah terbaca? Bolehkah terbaca? Tak apa-apa kah terbaca?

Merinduimu dan kenyang hanya dengan membaca nasihat-nasihatmu, apakah tak cukup? Entahlah. Aku hanya mengikuti naluri untuk bisa sampai mengetik seperti ini. Di detik aku mengalur dalam cerita ini.. Aku semakin tak tahu.. Untuk apa semua ini? Kenapa harus merinduimu? Kenapa membutuhkanmu disisiku? Kenapa begitu berpikiran membutuhkanmu? Bahkan kenapa aku mencintaimu? Apa itu sebenarnya cinta? Apakah ini benar.. "aku mencintaimu."? Ada apa dengan semua rasa ini..? Yang membuat tersenyum dan tersedu-sedu, yang membuat tertawa dan diam, yang membagiakan dan yang membuat sedih, yang bisa membuatku merasa sakit di dada dan yang membuatku bebas.


Aku menggunakanmu. Menggunakanmu untuk Kepada-Nya.  Dan dengan segala percaya ku yang salah, berharap menahanmu disisiku lebih lama, egoisku yang berlebihan, dan setelah itu kepergianmu. Atau kecerobohanku tak menahanmu. Adalah sesuatu yang sampai sekarang tak ada duanya, bukan rasa menyesalnya. Tapi karena sedari awal aku yang tak bisa berdiri diatas kaki ku sendiri untuk sampai kepadaNya. Melipat sayap rapi-rapi dan mempergunakanmu. 

Kini, jika aku merinduimu. Hanya karena aku seperti kehilangan sayapku. Teman untuk saling menasehati. Ah, bukan. Bukan saling. Tapi teman yang selalu menasehatiku. Yang bersedia duduk diam bersamaku saat semua waktu selalu memaksaku bergerak.  Yang selalu mengingatkanku betapa mencintaiNya adalah segala-galanya.  Banyak yang, yang tak bisa tertera semua disini. Paragraf-paragraf ini hanya merepresentasikan secuil dari efek keberadaanmu. Dan judul ini adalah secuil dari efek ketidakberadaan fisikmu, nasehatmu, kata-katamu.

Entah kenapa aku percaya sekali padamu.  Aku selalu berusaha melihat bintang itu. Aku tahu ia akan tetap disana. Menjadi tombol pengingat. Kau pandai sekali, selalu punya cara untuk mempersiapkan perpisahan.  Ah sudahlah, bicara tentangmu tak kan usai-usai. Cukup aku lega sudah mengatakan apa yang ku rasa, dalam  kata di judul postingan ini.

Read More......

Yang Terlewatkan..

Dear diary,
selamat buat dea yang telah diterima sebagai mahasiswi jurusan pendidikan bahasa jepang di universitas negeri surabaya… syukur alhamdulillah.. Allah telah memberikan nikmat dan kasih sayang yang tiada tara kepada kami.. Perjuangan memang belum berakhir kan…?! Dan kami percaya bahwa RencanaMu adalah yang terbaik bagi kami..

Then...
Tinggal beberapa hari waktuku untuk segera pindah dari kosanku yang sekarang.. Kenapa pindah? Karena ibu kos bilang kosan ini harus di renovasi. Jadi semua  penghuninya harus pindah.  Kali ini aku memutuskan untuk pindah ke keputih. Kenapa? Entahlah. Banyak alasan yang aku kira mendadak muncul di akhir2 hari tinggalku di kosan lama, membuatku ingin mencoba suasana baru, di keputih.

Di kosanku yang baru, aku akan tinggal sendirian. Nah itu kabar baik pertamanya, kabar baik keduanya adalah, kosanku yang baru punya atap terbuka di lantai 3. itu salah satu yang membuatku cepat klik untuk pindah kesana. Aku berharap, bisa lebih fokus terhadap banyak hal yang sudah ku rencanakan. Karena tinggal sendiri jadi lebih nyaman, insyaallah.. Jadi lebih ga sungkan untuk belajar, berdoa, baca quran dan hal2 lainya. Karena ga merasa ada yang ke ganggu dalam satu kamar. Amiin.

Hari-hari terakhir di kosan lama menyebalkan. Entah ini efek pre-pindah-isme atau kayak gimana.. Tapi ada saja yang bikin sebel.  Tenggang rasa, rasa tanggung jawab,  semakin memudar. Sehingga pekerjaan yang kulakukan tanpa menggerutu hampir tak bisa di hitung. Bukan karena saking banyaknya. Malah karena saking tidak ada nya yang bisa di hitung. Fiuh.  Eniwey, semoga aku betah di kosan yang baru. ^.^ v

Read More......

Kamis, 07 Agustus 2014

Dinner

Dear diary,
Beberapa hari setelah kembali ke surabaya hampir tiap malam ga pernah makan sendirian.. Ada aja yang ngajakin makan bareng, jadilah ga terlalu ngrasa sendirian. Seperti malam ini.. Tiba2 si jeki bbm, "mbak, ayo dinner" eh cie.. Dinner katanya.. Haha.. Aku mengiyakan, ba'da isya' kita berangkat. Niatnya mau makan sate, eh belum rezeki. Akhirnya makan di pak Bas. Sedikit kaget karena yang menjemputku dari kosan bukan jeki. Ia malah duduk manis di boncengan cahyo. Wih, sepertinya bakalan rame ini dinnernya, batinku. Tak berselang lama ani sm gajah (nizar) juga datang. Nah bingung jadinya, akhirnya papong datang. Lengkap sudah, kita ber enam pergi mengisi perut. Dari semenjak di depan kosan sampe tiba di tempat tujuan, bahkan sampe sebelum makanan terhidang, mereka sukses membuat aku tertawa tak berhenti. Ada saja kelakar yang di lontarkan atau ekspresi dan tingkah2 lucu mereka. Maklum, kami kangen sekali agaknya untuk berkumpul bercanda2 seperti itu. Rutinitas mereka yang disibukkan oleh penatnya skripsi dan aku yang berlibur membuat candaan pada saat berkumpul seperti saat itu bagai angin segar yang merefresh otak. Sampai mereka kembali mengantarku ke kos. Sumringah kami tak hilang. Setelah mereka pergi baru aku tersadar.. Bahwa beberapa dari mereka akan di wisuda september depan. Sedih, iya.  Tapi banggaku terhadap mereka juga menggunung. Bahagia punya mereka, selalu bersyukur pernah mengenal orang-orang terbaik di sekitarku, dan mereka adalah beberapa diantaranya..

Read More......

Selasa, 05 Agustus 2014

Senja Kala itu...

#latepost

Read More......

Perjuangan belum berakhir, Adikku sayang...

        Beberapa hari terakhir di pandaan begitu berat, banyak hal yang harus segera di selesaikan dengan tuntas. Pertama mengunjungi sekolah adek (titan), menjadi wali  dadakan untuk mengurus raportnya. Ada banyak kesalahan teknis yang sedari dulu sudah kuingatkan untuk diperbaiki namun tetap saja di biarkan. Nah kalau sudah di samperin kesana, bolak balik kantor kesiswaan dan BK, akhirnya mau di luruskan.  Lanjut ke pandaan, ketemu dea, sedikit memberi motivasi, bahwa perjuangan belum berakhir, mimpinya, ada untuk di raih.  5 kali gagal mendapat kesempatan untuk duduk di perguruan tinggi, sama sekali tak boleh menyurutkan keinginannya, walaupun tak terbayang bagaimana rasa putus asa di dalam dirinya bersorak-sorai untuk di gubris. Sampai si empunya akan membenarkan kalimat-kalimat negatif yang seliweran di kiri kanan telinganya. Bahwa sudah saatnya menyerah dan mencari kerja, bahwa orang tak berkecukupan materi dilarang mengenyam pendidikan tinggi, klise sekali. Bahwa hidup harus berjalan di atas kemudahan yang sudah pasti-pasti saja, bahwa dia harusnya tak boleh seperti punuk merindukan bulan. Atau bahkan membujuk hatinya dan pikirannya untuk meyakini bahwa, sekolah sudah lagi tak penting, kerja lah yang penting, dapet duit. Survive.  Dan segala tetek bengek lainnya. 

           Entahlah, aku gemas sekali. Orang-orang tua sekitar, berhak memberi nasehat dan mengingatkan jika kami memang punya keinginan muluk-muluk, bukan memaksa dan menyuruh, menjatuhkan dan berbicara negatif, mengecilkan niat kami, atau bahkan menyudutkan kami.  Dulu sebelum aku berangkat ke surabaya, pembicaraan ini sudah sering sekali aku dnegar, dan mungkin, sekarang, giliran dea yang harus menerima semuanya. Kalau dulu aku akan tutup telinga, memilih menyelesaikan pekerjaan rumah dan bernyanyi agar tak mendengar omelan mereka. Atau selalu menangis pada rabb ku, bersyukur di beri pendengaran yang tajam untuk setiap yang membicarakanku, sambil minta di beri kekuatan untuk tetap berjuang, entah sampai mana akhirnya. Mungkin sekarang giliran dea yang mengalami itu. Dan berulang kali aku bilang padanya, perjuangan belum berakhir, ga papa menangis, karena tangisan itu menguatkan, sama halnya saat tangisan itu menguatkanku hingga saat ini.

        Hingga terbuka pikirannya, menguat niatnya untuk tetap berjuang, berdoa tidak ada habisnya, bertasbih tak kenal lelah. Saat ini ia bersiap-siap untuk mendaftar di d3 vokasi unair dan pendidikan bahasa jepang di unesa. Serta mencari beberapa lowongan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.  Bismillah semoga lulus dan lolos.  Selesai membantu proses pendaftaran dan lain-lainnya.  Aku sedikit lega, dan bisa pergi ke surabaya dengan tenang. Malam hari sebelum berangkat ke surabaya, ada bbm dari ika (adek yang pernah hilang.. :D nah lo.. Hahaha) kita merencanakan ketemuan dari beberapa waktu lalu tapi belum sempat terlaksana, sampai akhirnya waktu itu kami berada di kota yang sama. Sehingga mudah saja memutuskan untuk bertemu, di detik itu juga. Voilaa.. Kmi bertemu di pujasera pandaan, saling bertukar peluk dan bertanya kabar. Sejenak aku berkaca-kaca, dalam hati aku berujar, "terimakasih ya Allah.. Sudah Kau perkenankan kami bertemu lagi.. Adikku yang telah menjadi dewasa, menyenangkan,, terima kasih telah Engkau pelihara dia disaat aku tak bisa selalu menemani masa remajanya,,  terimakasih untuk menumbuhkan segala pemahaman terbaik dengan caraMu.. " kami hanya makan dan sebentar -sebentar berkelakar. Saling bilang "jangan ilang lagi ya,.. " subhanallah.. Senang sekali malam itu.  Waktu cepat sekali berlalu hingga waktu menunjukkan pukul 21.20. dengan berat hati kami harus pulang kerumah masing-masing, dan aku harus bersiap diri untuk pulang ke surabaya. Kembali aku harus bilang bahwa aku senang sekali, yah walaupun setelahnya aku harus mengeluarkan energi terbesarku untuk membujuk diriku sendiri, bahwa sudah wkatunya pulang ke surabaya. Berat sekali. Tapi kami sama-sama berdoa, semoga ada umur panjang untuk bisa kembali bersenang-senang berdua, menyambung silaturahim. Dan begitulah ceritaku kemarin. 

P.S: Dan untuk kamu yang entah ada dimana saat ini, aku berdoa.. "semoga Allah selalu melindungimu.. Meridhoi  setiap langkah dan keputusanmu.. Menguatkanmu dengan caraNya yang terbaik.. Melancarkan rezekimu.. Melapangkan hatimu.. Dan semoga kau baik-baik saja disana.. Semoga kau selalu di beri nikmat dan kasih sayang Nya yang tiada tara.. " "amiin.."

Read More......

Jumat, 01 Agustus 2014

next_



Bukan maksud mau Pamer.. cuma.. pengen aja majang disini., walaupun masih acakadul. never mind. let's check it out. cengeng story versiku, ........ 

Aku berjalan di sepanjang jalan menuju ke cafe buku tempat kami menghabiskan waktu selain memandang senja. Merasakan sekali lagi hawanya di sisiku sedang sebenarnya ia sudah jauh pergi meninggalkanku. Hari ini matahari menggantung cerah dan cantik memancarkan apapun yang terkenainya, kontras sekali dengan wajah pucat dan kantung mata gelap yang meriasi wajahku. Namun aku bersyukur masih bisa menghirup segarnya udara siang hari ini. Aku tahu ini salah untuk pergi ke café dengan kondisiku yang seperti ini, tapi aku hanya ingin menikmati jam-jam yang tersisa di kota ini. Aku tersenyum dan menghirup nafas dalam-dalam, membingkai semua memori manis ini di sela-sela kesedihanku. Aku memperlambat langkah kakiku dan menyadari handpone ku bergetar, mungkin ada pesan masuk. Aku mengambilnya dan membaca tulisan yang tertera di layar, benar itu dari tika.
Tika: apa kamu masih bisa berpikir waras? Sebab seisi rumah sudah benar-benar kacau karena tindakanmu. Sebaiknya cepat katakan kamu sedang dimana?
Mila: aku di jalan. Mau ke café buku
Tika: tunggu disana, aku jemput kamu.
Mila: jangan, beri aku waktu. Kita ketemu di rumah saja. Please.
Tika: apa tidak cukup waktu yang sudah kau habiskan dari kemarin untuk membuat hidupmu beresiko dan seisi rumah khawatir?
Mila: tolong, tunggu saja dirumah. Aku segera pulang.
Tika: kau benar-benar membuatku marah sekarang.
            Aku tersenyum membacanya, senang rasanya masih mempunyai sahabat seperti tika, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk tidak menuruti keinginanku sekarang. Aku memasukkan ponsel ke sakuku, terus berjalan mendekati café buku. Aku berhenti disamping café, melihat bangunannya sekilas. Kenapa baru sekarang aku menyadari bahwa tempat ini juga sangat spesial bagiku. Aku memasuki café dan melihat sekeliling, berjalan mendekati bar, memesan seporsi roti bakar dan segelas coffee latte seraya memberi tahu dimana aku akan duduk nantinya. Aku tahu ini hanya akan menambah daftar kesalahanku hari ini, dengan memesan kopi sebagai minuman disaat liverku sakitnya timbul tenggelam, tapi seperti kesalahan yang sudah aku perbuat lainnya, aku hanya harus mengabaikan akhirnya. Aku berjalan mendekati rak dan menuju ke bagian novel, mengambil acak satu dari sekian banyak buku yang ada dan segera berjalan ke tempat duduk favorit, di pojok  samping jendela dan dekat dengan rak buku. Aku membuka dan menelusuri kata-kata indah yang tertulis di buku itu.
Seketika kemudian teringat hari-hari yang telah berlalu, membayangkan saat putra dengan senyum malu-malu membaca puisiku untuknya. “ini.. bagus sekali, aku belum pernah mendapatkan hal yang seperti ini sebelumnya. Kata-katanya begitu menyentuh, kau bisa menjadi penulis suatu saat nanti. Oh.. bagaimana jika kau menulis sebuah cerita, jika kau tidak ada ide.. maka tulis saja kisah kita dari awal.. dengan syarat aku harus jadi orang pertama yang membacanya? Bagaimana menurutmu? Apa kau sanggup?” aku tersenyum mengingat keinginannya, jika sekarang sudah tertebak akhirnya, maka bagaimana ia bisa menjadi pembaca pertama tulisanku? Atau aku hanya perlu menulis apapun yang ingin ku tulis, suatu saat ketika orang membacanya mungkin cerita yang ku tulis akan di dengarnya, dengan begitu ia akhirnya akan tahu bahwa aku sudah berusaha sejauh itu  untuk mewujudkan cita-cita ku. Disaat aku berpikir tentangnya, pramusaji meletakkan apa yang sudah ku pesan di mejaku, sambil tersenyum ramah mempersilahkanku. Aku tertular senyumannya. Aku meletakkan novel di meja dan berpaling pada secangkir kopi di mejaku, ingin sekali menyesap pahitnya. Aku mengangkat cangkir itu dan menghirup aroma kopi yang menggoda, menyesapnya dengan mata terpejam hingga pahitnya akan terasa lebih pekat. Kemudian tersenyum perih karena liver yang tak terima jika tak diacuhkan. Cukup untuk kebahagiaan sesaat dengan kopi, aku memandang keluar dari balik jendela dan melihat kuasa sinar matahari yang terik di sepanjang jalan sejauh mata memandang, mulai termangu merangkai kata-kata dalam pikiranku. Merasakan dan membingkai setiap ingatan yang tersisa di kota ini, masa remajaku, cintaku, patah hatiku, putra.
Menyadari bahwa semanis apapun cinta yang pernah kita miliki, seindah apapun takdir mewarnai hari-hari yang pernah kita miliki bersama, pada akhirnya takdir jugalah yang memisahkan kita. what am I supposed to do, now? Pikirku, Apa yang harus kulakukan sekarang? adakah sekiranya yang bisa ku lakukan lebih dari sekedar menangis terisak-isak di tengah malam buta? Memohon agar kau kembali lagi seperti yang sudah-sudah?  Termenung sepanjang senja hanya untuk mencari tahu kenapa akhirnya bisa jadi seperti ini? Kenapa Tuhan akhirnya mengambilmu dariku? Apakah IA menyadari akhirnya aku bukan orang yang pantas untukmu lalu membiarkanmu berjalan pergi sekali lagi dariku tanpa menyertakan jalan untuk kembali padaku? Atau apakah aku yang tamak, sudah menganggap hatimu padaku sedang sebenarnya aku masih sama seperti punuk merindukan bulan? Aku masih saja heran, Kenapa bisa semanis itu jika akhirnya hanya menyisakan pahit? Aku berjalan hati-hati di atas cinta agar tidak tertusuk duri, namun ternyata cinta itu sendiri yang menghujamkan durinya padaku. Membuat luka yang sukar sembuh, hingga sampai kapanpun aku akan ingat bahwa aku telah berbeda. Hatiku, hariku, dan diriku tak akan sama setelahnya. Aku sangat ingin berteriak marah, tapi pada siapa akan ku bebankan rasa kesalku? Pantaskah aku marah atas keputusanNYA sedang IA harusnya hanya menerima sembah syukurku karena telah bermurah hati menghadirkan putra di hidupku. Nalarku tak sampai mencerna, lalu bagaimana bisa aku meyakinkan hatiku untuk mengikhlaskan. Bagaimana aku membujuk hatiku untuk membebaskannya. Aku menyesap kopi ku sekali lagi, meneguk pahitnya untuk mencari legitnya. Kopi memang teman yang paling mengerti di saat-saat seperti ini, manisnya menenangkan dan pahitnya menahanku untuk tetap sadar. Seperti secangkir kopi yang tengah ku sesap, teguk demi teguknya terus menerus mengingatkan kemanisan kisahku yang berujung pahit, angkuhnya ini terlalu menyindir. Aku kehilangan cintanya, terlebih kehilangan dirinya. Khawatirku tak kunjung usai jika aku terus saja ingat tentang bagaimana aku menghabiskan waktu bersamanya selama ini. Pertanyaan ‘bagaimana besok’ berputar-putar menyudutkanku. Bagaimana bisa aku tak mempunyai kesempatan sama sekali untuk menahannya. Lalu akan seperti apa esok?. Mencintainya sepihak memang sudah tidak awam kurasakan, namun kali ini aku benar-benar kehilangan harapan.
Aku memandang ke sekeliling, café ini juga akan menjadi salah satu kenangan indahku saat bersama teman-temanku, saat bersama putra. Kali ini Alunan piano yiruma yang mengalun indah terdengar menyayat hati, seakan memmbunyikan peluit perpisahan. Aku ingin mengingat setiap detailnya, suasananya, ketenangannya. Aku mengedarkan pandangan sekali lagi dan tergelitik untuk melihat ke luar, mengingat saat dulu aku menunggu putra datang. Sepertinya aku sedang mengaburkan kenangan dengan kenyataan, hingga keindahannya terasa sangat menyedihkan sekarang. Saat akan meletakkan cangkir kopiku, aku terhenyak melihat sesosok bayangan yang sedari tadi tak henti-hentinya memaksa untuk diingat, dikenang seutuhnya, putra. Apa aku tidak sedang berhalusinasi? Aku berusaha menggigit bibirku untuk meyakinkan diri. Aku sadar sepenuhnya, dan aku bisa melihat sejelas-jelasnya. Itu putra. Dia berada di seberang jalan, di toko bunga louise. Ingin sekali untuk tidak penasaran sedang apa ia ke toko bunga. Namun pandanganku tak mau pergi darinya. Seluruh tubuhku terasa nyeri, serasa ada yang sengaja melolosi tulang-tulangku. Bagaimana bisa orang yang sangat ku cintai, bisa menyakitiku sedemikian rupa hanya dengan melihatnya. Aku memandang lamat-lamat pada sosoknya. ia sedang berdiri mematung di depan toko bunga sehabis memarkir sepedanya, seperti  menunggu sesuatu, atau jangan-jangan seseorang. Sesaat kemudian ia berpaling ke arah kafe dimana aku berada, melihat kearah kafe ini. Deg, jantungku serasa berhenti berdetak, aku ingin sekali berdiri, keluar dari tempat ini, melambaikan tangan dengan tersenyum padanya, dan berharap dia akan berjalan kearahku. Namun tidak ada yang ku lakukan, putra tetap tidak menyadari keberadaanku disini, dan aku tetap diam dengan air mata kian menggenang.
Kemudian ia mengambil ponsel di sakunya, seperti membaca atau mengetik sesuatu, ia memutar tubuhnya lalu berjalan masuk ke louise. Aku berusaha bernafas, meletakkan cangkirku yang sedari tadi menggantung gemetar, meletakkannya dengan berderak. Aku menggenggam erat tanganku, berusaha menstabilkan emosiku. Aku sangat ingin bertemu dengannya, namun aku tidak tahu jika efeknya akan seperti ini kepadaku. belum sempat aku menahan air mata yang susah payah ingin menetes, putra keluar dari louise dengan senyuman sabitnya, riang sekali, lalu ia menahan pintu itu untuk tetap terbuka, kemudian seorang perempuan keluar sambil tersenyum renyah padanya, seolah berterimakasih. Aku tersenyum dan menangis, dulu ia akan selalu membuka dan menahan setiap pintu untukku dengan senyuman itu, namun kini ia membukanya untuk orang lain, sama sekali bukan untukku. Siapa.. siapa perempuan itu, aku memperhatikannya lebih jauh, perempuan ayu berwajah teduh, dengan senyum renyah dan kerudungnya yang manis. Dan tiba-tiba saja dengan menetesnya air mataku, dengan rasa sesak di hatiku aku menyadari bahwa aku bukan apa-apa, tiba-tiba saja aku sepertinya tahu kenapa tuhan mengambilnya dariku, tiba-tiba saja sepertinya aku mendapat jawaban tentang ketidak terimaan yang sudah kupikirkan disini sedari tadi.
Perempuan itu berjalan bersisian menuju tempat putra memarkir sepedanya dengan tetap tersenyum dan bercanda. putra menyerahkan sebuah helm dan menaiki sepedanya, lalu perempuan itu sudah berada di boncengannya. Mereka pergi, dan aku termangu menyadari bahwa sudah tak ada yang tersisa untukku, aku merasa kalah telak.
Aku menahan isakanku, menyisakan setetes demi setetes air mata yang tidak berhenti turun. Melipat tanganku dan mengubur wajahku di dalamnya, tidak tahu lagi harus seperti apa. Dalam hati aku merapalkan doa untuk putra, semoga ia tetap akan tersenyum bahagia seperti itu sampai kapanpun, semoga akan tetap ada yang membahagiakannya, menemaninya saat kesepian, selalu berpihak padanya saat ia membutuhkan dukungan, selalu memberinya semangat untuk melakukan kebaikan berantai, seperti yang sudah ia tularkan padaku sebelumnya, dan semoga ia selalu dilindungi olehNYA. Hanya itu kurasa cinta yang masih boleh tersisa, ribuan doa yang berjuntai-juntai untuknya.
Aku merasa kisah cintaku telah usai, namun tidak dengan kenangannya, tidak dengan doa untuknya. Aku mencoba menarik nafas panjang, menyeka air mata dan menepuk –nepuk wajahku untuk mengurangi sembabnya. kemudian aku berdiri dari tempatku duduk, bersiap meninggalkan segala yang ada di kota ini. Aku harus pulang, tiba-tiba saja aku ingin berada di pelukan ayah dan merasakan usapan tulus ibu di kepalaku. Aku sudah siap sekarang, aku akan kembali pulang dan segera bersiap pergi dari kota ini. Memasrahkan hatiku sepenuhnya kepada Tuhan, mengubur semua kesedihan tentang semua ini. Aku berjalan keluar dari café, menyusuri trotoar yang kian mengabur dari pandangan karena air mata yang menggenang. Mencoba mencari jalan pulang tercepat untuk sampai dan segera pergi dari kota yang terlalu memedihkan ini.

Read More......