Referral Banners

Selasa, 23 Desember 2014

Kisah dalam telepon


Tuesday, December 16, 2014
2:00 AM

Dulu.. Dulu sekali.. Aku pernah mendengar cerita yang menginspirasi di sepertiga malamku.. Kali ini.. Aku akan membaginya kepadamu.. Memberi tahu kepada yang ingin tahu.. Mengingatkan kepada siapa saja yang lupa.. Dan mengikatku agar selamanya ini dapat menginspirasiku..

Malam itu.. telepon genggam yang sedari tadi kupandangi layarnya, berdering menandakan ada panggilan masuk. Senyumku mengembang begitu saja tanpa harus memakan coklat atau es krim :D lucu bukan? Masa muda yang alhamdulillah sekali.. Entah perihal apa yang kita bicarakan hingga pagi, tapi aku lebih banyak mendengar, hanya sesekali menjawabnya, memberitahunya bahwa aku masih ada bersamanya untuk mendengar apa yang ia katakan. Dulu.. Dulu sekali.. Apa yang dikatakan pria itu adalah sesuatu yang benar, sejauh apapun aku berpikir maka aku akan selalu menemukan kebenaran dalam kata-katanya. Jadi aku tak pernah menyela, dan tak ada yang bisa kulakukan selain mendengarnya baik-baik. Egois memperkaya diriku sendiri dan tak pernah mengimbanginya..

Pada intinya.. Aku mendengar sebuah cerita darinya, jarang ia berbagi pengalaman yang sungguh berarti dan begitu pribadi baginya terhadapku, tapi malam ini sepertinya adalah sebuah pengecualian.

"aku pergi ke madura.. Bertemu adik ku..  Dan lihatlah.. Siapa yang tidak bangga melihat adiknya tumbuh dengan baik.. Bertutur kata halus dan sopan kepadaku.. Bercerita dengan menggunakan bahasa krama alus, seakan membuktikan padaku bahwa ia menyampaikan ketulusan, menghormatiku sebagai kakak nya. Ia baru kelas 4 SD, dan pemahamannya, prilakunya sungguh membuatku bangga diantara rasa puasku meleburkan rindu padanya.. Dan pada saat itu.. Ia menyuguhkan secangkir teh, yang aku tahu kemudian bahwa ialah yang membuatnya. Bagiku, itulah teh ter-enak yang pernah aku minum, aku harap tak akan pernah lupa rasanya. Tahu bahwa ia mungkin menyeduhnya dengan rasa hormat dan kasih sayang yang tepat, membubuhinya dengan segala rindu dan harapan kepada kakak-kakaknya. Ia baru kelas 4 SD tapi caranya memuliakan tamu sungguh luar biasa, dan bagaimana mungkin aku tak bangga melihatnya seperti ini. Adikku, tumbuh dengan baik, dengan segala pemahaman yang ia punya dan dengan segala keterbatasanku menemani masa-masa terbaiknya untuk menjadi  dewasa. Pendeknya, aku seperti tidak pernah melakukan apapun kepadanya selain mengunjunginya dengan baik dan melihatnya dalam keadaan yang baik-baik saja. "


Dalam heningku menyerap semua suara yang kau tuturkan, aku  merasa sendiri mu, harapanmu, kekacauan yang selama ini kau rasa dan tanggung sendiri dibalik semua ketangguhan yang kau pamerkan.  Yang bahkan dengan segala kekacauan itu aku pernah sesekali merasa jengah, ingin berucap "bahwa tak apa sesekali meletakkan segalanya dan berbagi denganku.. Bahwa tak apa sesekali merasa lelah, dan marah dan berbagi denganku.." namun kenyataan bahwa kau sama sekali belum mempercayaiku untuk itu semua selalu membuatku sedih, pada akhirnya aku tahu.. Bahwa aku mungkin kau kira tak cukup kuat untuk menjadi temanmu berbagi.

Pada malam itu aku tahu sedikit tentang "keluarga" darimu.. Dan
Pada malam itu, aku meneguhkan hati.. Bahwa aku akan  berusaha sebaik mungkin membantumu..  Dengan cara apapun yang ku bisa, berdiri disampingmu sebagai teman yang akan bisa kau andalkan. Di belakangmu untuk selalu mendukung apapun langkah yang ingin kau capai..

…. Membuat sebuah keluarga yang utuh tak tercerai berai… memastikan semua anggota keluarga itu memiliki pemahaman terbaik tentang kehidupan, waktu, kematian,  cinta dan masih banyak lagi. Memastikan kapal yang kau nahkodai mencapai tujuan yang tepat, selalu dalam lintasanNYA…….

Itu hanya sedikit dari samudra keinginan yang ingin ku capai bersamamu..

Namun keinginan itu belum tentu bisa tercapai sesuai dengan rencanaku. Maka ketika kau pergi, "aku yang berdiri disampingmu" pun menemukan jalan buntu. Dan kau benar, "….hanya perlu pindah lintasan bukan??" maka itulah yang aku lakukan sekarang, dengan cara yang tersisa menurut pemahamanku. Doa untukmu.

Bahwa dengan siapapun yang bersamamu saat ini, aku harap keinginanmu tercapai sesuai ijinNYA.
Bahwa dengan siapapun yang bersamamu saat ini, ia bisa jauh lebih baik dalam menemanimu dari apa yang aku rencanakan dulu.

Dan kenapa aku bercerita ini semua kepadamu.?
apakah dengan ini aku berharap kau mengapresiasi ku?
Sama sekali bukan..

Karena aku masih sering sedih jika mendengar masih saja ada yang tidak bisa menerima ketulusanku.
Karena aku masih sering sedih jika tahu masih saja ada yang salah paham terhadap perasaanku.
Dan aku bertambah sedih mengetahui bahwa aku yang membuat mereka semua salah paham.

Mereka tidak mengambil kesimpulan dan keputusan yang tepat karena mereka tidak tahu, jadi sama sekali tidak bisa disalahkan. Namun aku yang tidak bisa membuat mereka paham, dan membuat mereka salah pahamlah yang harus bertanggung jawab. Walaupun aku tidak tahu caranya, aku tak akan berhenti mencari jalannya.

Bukan karena repot-repot mengurusi perkataan orang lain. Tapi aku peduli rasa sakit dihati mereka yang membicarakanku.  Aku menyayangi mereka semua.. Jadi aku tak pernah suka jika mereka sakit hati apalagi karena aku. 

Terakhir….

Dan apa kau pernah tidak jujur padaku? Pernah, pasti pernah, terlepas kau sengaja atau tak ada cara lain. Dan apa kau pernah menghindariku? Pernah, jelas pernah, terlepas kau sengaja atau tak ada cara lain.  Setiap orang memiliki sisi gelapnya masing-masing. Setiap orang memiliki sisi buruknya masing-masing. Tapi untukmu, ketika semua orang berkata buruk tentangmu, tapi  untukmu ketika kau melakukan sesuatu yang menurutku buruk sekalipun, kau mungkin bisa tahu, bahwa aku tetap berdiri mencintaimu di tempat yang sama yang sudah kau tingggalkan jauh sebelumnya., kenapa?  Jelas karena aku mencintamu.  Dan yang terpenting bahwa, aku selalu bisa merasa kebaikan dalam dirimu.  Bahwa sejauh apapun kau melakukan kesalahan, kau akan bisa kembali dalam keadaan stabil. Karena ALLAH ku selalu ada dalam hatimu, dan selalu bersamamu.

Read More......