Referral Banners

Kamis, 28 Agustus 2014

Just Once by Soyu (eng. translt)

You blow into my hands and disappear
when it seems like I can catch you
Like the cruel wind,
you get farther away
The night I quietly cried
as I held onto my heart
My day passed as
sadness in the darkness
I difficultly erase and erase
but I’m draw you out again
The painful memories
make our love even sadder
No matter how much I hide it,
you fill up my eyes
The longing overflows
like my tears,
what do I do?
Will I be able to see you in my dreams?
If I anxiously wait, will I meet you?
I make a wish on
that lonely moon
Just once, just once more..
I say this alone
mixed with tears
I difficultly erase and erase
but I’m draw you out again
The painful memories
make our love even sadder
No matter how much I hide it,
you fill up my eyes
The longing overflows
like my tears,
what do I do?
You only come to me
in my sad dreams
I know, I know but I can’t
let you go even a little bit
I difficultly erase and erase
but I’m draw you out again
The painful memories
make our love even sadder
No matter how much I hide it,
you fill up my eyes
The longing overflows
like my tears,
what do I do?

Read More......

Rabu, 27 Agustus 2014

Hai.. Kamu..

hai kamu yang disembunyikan rapi-rapi oleh sang fajar...
hai kamu yang di peluk erat oleh sang rembulan..
semoga kau selalu baik-baik saja..
mengetik satu dua kata disini sungguh menggenangkan air mata..
dan kau akan selalu menemukanku seperti ini disini..
karena rumah ini tercipta untuk itu..


aku melihatmu ketika fajar.. berjalan mantap menujuku.. bersinar terang dan menyilaukan mata..
tersenyum hangat.. meneduhkan.. lalu menghilang sebelum bisa kupeluk erat..
kado termanis yang pernah ku dapat di hari ulang tahunku..


duduklah disini sebentar saja..
temani aku dalam heningmu yang khidmat..
kau bilang aku tak boleh menangis untukmu..
kau bilang jangan pernah menangis tanpa sepengetahuanmu..
maka temani aku disini sebentar saja..
aku ingin menangis...
disampingmu..




Read More......

Senin, 25 Agustus 2014

Rindu . . .


Tak ada cukup banyak waktu untuk merasakan yang menghujam-hujam di dada. Tak ada cukup temaram yang bisa menyembunyikan mataku yang sudah lama berkaca-kaca. Hanya karena ingin bertahan dalam keadaan "aku baik-baik saja" bahkan air mata itu hanya menggenang. Bersedia menahan lajunya untuk kering di pipi.

Mendadak khawatir, apa yang seharusnya tertulis disini. Pantaskah terbaca? Bolehkah terbaca? Tak apa-apa kah terbaca?

Merinduimu dan kenyang hanya dengan membaca nasihat-nasihatmu, apakah tak cukup? Entahlah. Aku hanya mengikuti naluri untuk bisa sampai mengetik seperti ini. Di detik aku mengalur dalam cerita ini.. Aku semakin tak tahu.. Untuk apa semua ini? Kenapa harus merinduimu? Kenapa membutuhkanmu disisiku? Kenapa begitu berpikiran membutuhkanmu? Bahkan kenapa aku mencintaimu? Apa itu sebenarnya cinta? Apakah ini benar.. "aku mencintaimu."? Ada apa dengan semua rasa ini..? Yang membuat tersenyum dan tersedu-sedu, yang membuat tertawa dan diam, yang membagiakan dan yang membuat sedih, yang bisa membuatku merasa sakit di dada dan yang membuatku bebas.


Aku menggunakanmu. Menggunakanmu untuk Kepada-Nya.  Dan dengan segala percaya ku yang salah, berharap menahanmu disisiku lebih lama, egoisku yang berlebihan, dan setelah itu kepergianmu. Atau kecerobohanku tak menahanmu. Adalah sesuatu yang sampai sekarang tak ada duanya, bukan rasa menyesalnya. Tapi karena sedari awal aku yang tak bisa berdiri diatas kaki ku sendiri untuk sampai kepadaNya. Melipat sayap rapi-rapi dan mempergunakanmu. 

Kini, jika aku merinduimu. Hanya karena aku seperti kehilangan sayapku. Teman untuk saling menasehati. Ah, bukan. Bukan saling. Tapi teman yang selalu menasehatiku. Yang bersedia duduk diam bersamaku saat semua waktu selalu memaksaku bergerak.  Yang selalu mengingatkanku betapa mencintaiNya adalah segala-galanya.  Banyak yang, yang tak bisa tertera semua disini. Paragraf-paragraf ini hanya merepresentasikan secuil dari efek keberadaanmu. Dan judul ini adalah secuil dari efek ketidakberadaan fisikmu, nasehatmu, kata-katamu.

Entah kenapa aku percaya sekali padamu.  Aku selalu berusaha melihat bintang itu. Aku tahu ia akan tetap disana. Menjadi tombol pengingat. Kau pandai sekali, selalu punya cara untuk mempersiapkan perpisahan.  Ah sudahlah, bicara tentangmu tak kan usai-usai. Cukup aku lega sudah mengatakan apa yang ku rasa, dalam  kata di judul postingan ini.

Read More......

Yang Terlewatkan..

Dear diary,
selamat buat dea yang telah diterima sebagai mahasiswi jurusan pendidikan bahasa jepang di universitas negeri surabaya… syukur alhamdulillah.. Allah telah memberikan nikmat dan kasih sayang yang tiada tara kepada kami.. Perjuangan memang belum berakhir kan…?! Dan kami percaya bahwa RencanaMu adalah yang terbaik bagi kami..

Then...
Tinggal beberapa hari waktuku untuk segera pindah dari kosanku yang sekarang.. Kenapa pindah? Karena ibu kos bilang kosan ini harus di renovasi. Jadi semua  penghuninya harus pindah.  Kali ini aku memutuskan untuk pindah ke keputih. Kenapa? Entahlah. Banyak alasan yang aku kira mendadak muncul di akhir2 hari tinggalku di kosan lama, membuatku ingin mencoba suasana baru, di keputih.

Di kosanku yang baru, aku akan tinggal sendirian. Nah itu kabar baik pertamanya, kabar baik keduanya adalah, kosanku yang baru punya atap terbuka di lantai 3. itu salah satu yang membuatku cepat klik untuk pindah kesana. Aku berharap, bisa lebih fokus terhadap banyak hal yang sudah ku rencanakan. Karena tinggal sendiri jadi lebih nyaman, insyaallah.. Jadi lebih ga sungkan untuk belajar, berdoa, baca quran dan hal2 lainya. Karena ga merasa ada yang ke ganggu dalam satu kamar. Amiin.

Hari-hari terakhir di kosan lama menyebalkan. Entah ini efek pre-pindah-isme atau kayak gimana.. Tapi ada saja yang bikin sebel.  Tenggang rasa, rasa tanggung jawab,  semakin memudar. Sehingga pekerjaan yang kulakukan tanpa menggerutu hampir tak bisa di hitung. Bukan karena saking banyaknya. Malah karena saking tidak ada nya yang bisa di hitung. Fiuh.  Eniwey, semoga aku betah di kosan yang baru. ^.^ v

Read More......

Kamis, 07 Agustus 2014

Dinner

Dear diary,
Beberapa hari setelah kembali ke surabaya hampir tiap malam ga pernah makan sendirian.. Ada aja yang ngajakin makan bareng, jadilah ga terlalu ngrasa sendirian. Seperti malam ini.. Tiba2 si jeki bbm, "mbak, ayo dinner" eh cie.. Dinner katanya.. Haha.. Aku mengiyakan, ba'da isya' kita berangkat. Niatnya mau makan sate, eh belum rezeki. Akhirnya makan di pak Bas. Sedikit kaget karena yang menjemputku dari kosan bukan jeki. Ia malah duduk manis di boncengan cahyo. Wih, sepertinya bakalan rame ini dinnernya, batinku. Tak berselang lama ani sm gajah (nizar) juga datang. Nah bingung jadinya, akhirnya papong datang. Lengkap sudah, kita ber enam pergi mengisi perut. Dari semenjak di depan kosan sampe tiba di tempat tujuan, bahkan sampe sebelum makanan terhidang, mereka sukses membuat aku tertawa tak berhenti. Ada saja kelakar yang di lontarkan atau ekspresi dan tingkah2 lucu mereka. Maklum, kami kangen sekali agaknya untuk berkumpul bercanda2 seperti itu. Rutinitas mereka yang disibukkan oleh penatnya skripsi dan aku yang berlibur membuat candaan pada saat berkumpul seperti saat itu bagai angin segar yang merefresh otak. Sampai mereka kembali mengantarku ke kos. Sumringah kami tak hilang. Setelah mereka pergi baru aku tersadar.. Bahwa beberapa dari mereka akan di wisuda september depan. Sedih, iya.  Tapi banggaku terhadap mereka juga menggunung. Bahagia punya mereka, selalu bersyukur pernah mengenal orang-orang terbaik di sekitarku, dan mereka adalah beberapa diantaranya..

Read More......

Selasa, 05 Agustus 2014

Senja Kala itu...

#latepost

Read More......

Perjuangan belum berakhir, Adikku sayang...

        Beberapa hari terakhir di pandaan begitu berat, banyak hal yang harus segera di selesaikan dengan tuntas. Pertama mengunjungi sekolah adek (titan), menjadi wali  dadakan untuk mengurus raportnya. Ada banyak kesalahan teknis yang sedari dulu sudah kuingatkan untuk diperbaiki namun tetap saja di biarkan. Nah kalau sudah di samperin kesana, bolak balik kantor kesiswaan dan BK, akhirnya mau di luruskan.  Lanjut ke pandaan, ketemu dea, sedikit memberi motivasi, bahwa perjuangan belum berakhir, mimpinya, ada untuk di raih.  5 kali gagal mendapat kesempatan untuk duduk di perguruan tinggi, sama sekali tak boleh menyurutkan keinginannya, walaupun tak terbayang bagaimana rasa putus asa di dalam dirinya bersorak-sorai untuk di gubris. Sampai si empunya akan membenarkan kalimat-kalimat negatif yang seliweran di kiri kanan telinganya. Bahwa sudah saatnya menyerah dan mencari kerja, bahwa orang tak berkecukupan materi dilarang mengenyam pendidikan tinggi, klise sekali. Bahwa hidup harus berjalan di atas kemudahan yang sudah pasti-pasti saja, bahwa dia harusnya tak boleh seperti punuk merindukan bulan. Atau bahkan membujuk hatinya dan pikirannya untuk meyakini bahwa, sekolah sudah lagi tak penting, kerja lah yang penting, dapet duit. Survive.  Dan segala tetek bengek lainnya. 

           Entahlah, aku gemas sekali. Orang-orang tua sekitar, berhak memberi nasehat dan mengingatkan jika kami memang punya keinginan muluk-muluk, bukan memaksa dan menyuruh, menjatuhkan dan berbicara negatif, mengecilkan niat kami, atau bahkan menyudutkan kami.  Dulu sebelum aku berangkat ke surabaya, pembicaraan ini sudah sering sekali aku dnegar, dan mungkin, sekarang, giliran dea yang harus menerima semuanya. Kalau dulu aku akan tutup telinga, memilih menyelesaikan pekerjaan rumah dan bernyanyi agar tak mendengar omelan mereka. Atau selalu menangis pada rabb ku, bersyukur di beri pendengaran yang tajam untuk setiap yang membicarakanku, sambil minta di beri kekuatan untuk tetap berjuang, entah sampai mana akhirnya. Mungkin sekarang giliran dea yang mengalami itu. Dan berulang kali aku bilang padanya, perjuangan belum berakhir, ga papa menangis, karena tangisan itu menguatkan, sama halnya saat tangisan itu menguatkanku hingga saat ini.

        Hingga terbuka pikirannya, menguat niatnya untuk tetap berjuang, berdoa tidak ada habisnya, bertasbih tak kenal lelah. Saat ini ia bersiap-siap untuk mendaftar di d3 vokasi unair dan pendidikan bahasa jepang di unesa. Serta mencari beberapa lowongan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.  Bismillah semoga lulus dan lolos.  Selesai membantu proses pendaftaran dan lain-lainnya.  Aku sedikit lega, dan bisa pergi ke surabaya dengan tenang. Malam hari sebelum berangkat ke surabaya, ada bbm dari ika (adek yang pernah hilang.. :D nah lo.. Hahaha) kita merencanakan ketemuan dari beberapa waktu lalu tapi belum sempat terlaksana, sampai akhirnya waktu itu kami berada di kota yang sama. Sehingga mudah saja memutuskan untuk bertemu, di detik itu juga. Voilaa.. Kmi bertemu di pujasera pandaan, saling bertukar peluk dan bertanya kabar. Sejenak aku berkaca-kaca, dalam hati aku berujar, "terimakasih ya Allah.. Sudah Kau perkenankan kami bertemu lagi.. Adikku yang telah menjadi dewasa, menyenangkan,, terima kasih telah Engkau pelihara dia disaat aku tak bisa selalu menemani masa remajanya,,  terimakasih untuk menumbuhkan segala pemahaman terbaik dengan caraMu.. " kami hanya makan dan sebentar -sebentar berkelakar. Saling bilang "jangan ilang lagi ya,.. " subhanallah.. Senang sekali malam itu.  Waktu cepat sekali berlalu hingga waktu menunjukkan pukul 21.20. dengan berat hati kami harus pulang kerumah masing-masing, dan aku harus bersiap diri untuk pulang ke surabaya. Kembali aku harus bilang bahwa aku senang sekali, yah walaupun setelahnya aku harus mengeluarkan energi terbesarku untuk membujuk diriku sendiri, bahwa sudah wkatunya pulang ke surabaya. Berat sekali. Tapi kami sama-sama berdoa, semoga ada umur panjang untuk bisa kembali bersenang-senang berdua, menyambung silaturahim. Dan begitulah ceritaku kemarin. 

P.S: Dan untuk kamu yang entah ada dimana saat ini, aku berdoa.. "semoga Allah selalu melindungimu.. Meridhoi  setiap langkah dan keputusanmu.. Menguatkanmu dengan caraNya yang terbaik.. Melancarkan rezekimu.. Melapangkan hatimu.. Dan semoga kau baik-baik saja disana.. Semoga kau selalu di beri nikmat dan kasih sayang Nya yang tiada tara.. " "amiin.."

Read More......

Jumat, 01 Agustus 2014

next_



Bukan maksud mau Pamer.. cuma.. pengen aja majang disini., walaupun masih acakadul. never mind. let's check it out. cengeng story versiku, ........ 

Aku berjalan di sepanjang jalan menuju ke cafe buku tempat kami menghabiskan waktu selain memandang senja. Merasakan sekali lagi hawanya di sisiku sedang sebenarnya ia sudah jauh pergi meninggalkanku. Hari ini matahari menggantung cerah dan cantik memancarkan apapun yang terkenainya, kontras sekali dengan wajah pucat dan kantung mata gelap yang meriasi wajahku. Namun aku bersyukur masih bisa menghirup segarnya udara siang hari ini. Aku tahu ini salah untuk pergi ke café dengan kondisiku yang seperti ini, tapi aku hanya ingin menikmati jam-jam yang tersisa di kota ini. Aku tersenyum dan menghirup nafas dalam-dalam, membingkai semua memori manis ini di sela-sela kesedihanku. Aku memperlambat langkah kakiku dan menyadari handpone ku bergetar, mungkin ada pesan masuk. Aku mengambilnya dan membaca tulisan yang tertera di layar, benar itu dari tika.
Tika: apa kamu masih bisa berpikir waras? Sebab seisi rumah sudah benar-benar kacau karena tindakanmu. Sebaiknya cepat katakan kamu sedang dimana?
Mila: aku di jalan. Mau ke café buku
Tika: tunggu disana, aku jemput kamu.
Mila: jangan, beri aku waktu. Kita ketemu di rumah saja. Please.
Tika: apa tidak cukup waktu yang sudah kau habiskan dari kemarin untuk membuat hidupmu beresiko dan seisi rumah khawatir?
Mila: tolong, tunggu saja dirumah. Aku segera pulang.
Tika: kau benar-benar membuatku marah sekarang.
            Aku tersenyum membacanya, senang rasanya masih mempunyai sahabat seperti tika, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk tidak menuruti keinginanku sekarang. Aku memasukkan ponsel ke sakuku, terus berjalan mendekati café buku. Aku berhenti disamping café, melihat bangunannya sekilas. Kenapa baru sekarang aku menyadari bahwa tempat ini juga sangat spesial bagiku. Aku memasuki café dan melihat sekeliling, berjalan mendekati bar, memesan seporsi roti bakar dan segelas coffee latte seraya memberi tahu dimana aku akan duduk nantinya. Aku tahu ini hanya akan menambah daftar kesalahanku hari ini, dengan memesan kopi sebagai minuman disaat liverku sakitnya timbul tenggelam, tapi seperti kesalahan yang sudah aku perbuat lainnya, aku hanya harus mengabaikan akhirnya. Aku berjalan mendekati rak dan menuju ke bagian novel, mengambil acak satu dari sekian banyak buku yang ada dan segera berjalan ke tempat duduk favorit, di pojok  samping jendela dan dekat dengan rak buku. Aku membuka dan menelusuri kata-kata indah yang tertulis di buku itu.
Seketika kemudian teringat hari-hari yang telah berlalu, membayangkan saat putra dengan senyum malu-malu membaca puisiku untuknya. “ini.. bagus sekali, aku belum pernah mendapatkan hal yang seperti ini sebelumnya. Kata-katanya begitu menyentuh, kau bisa menjadi penulis suatu saat nanti. Oh.. bagaimana jika kau menulis sebuah cerita, jika kau tidak ada ide.. maka tulis saja kisah kita dari awal.. dengan syarat aku harus jadi orang pertama yang membacanya? Bagaimana menurutmu? Apa kau sanggup?” aku tersenyum mengingat keinginannya, jika sekarang sudah tertebak akhirnya, maka bagaimana ia bisa menjadi pembaca pertama tulisanku? Atau aku hanya perlu menulis apapun yang ingin ku tulis, suatu saat ketika orang membacanya mungkin cerita yang ku tulis akan di dengarnya, dengan begitu ia akhirnya akan tahu bahwa aku sudah berusaha sejauh itu  untuk mewujudkan cita-cita ku. Disaat aku berpikir tentangnya, pramusaji meletakkan apa yang sudah ku pesan di mejaku, sambil tersenyum ramah mempersilahkanku. Aku tertular senyumannya. Aku meletakkan novel di meja dan berpaling pada secangkir kopi di mejaku, ingin sekali menyesap pahitnya. Aku mengangkat cangkir itu dan menghirup aroma kopi yang menggoda, menyesapnya dengan mata terpejam hingga pahitnya akan terasa lebih pekat. Kemudian tersenyum perih karena liver yang tak terima jika tak diacuhkan. Cukup untuk kebahagiaan sesaat dengan kopi, aku memandang keluar dari balik jendela dan melihat kuasa sinar matahari yang terik di sepanjang jalan sejauh mata memandang, mulai termangu merangkai kata-kata dalam pikiranku. Merasakan dan membingkai setiap ingatan yang tersisa di kota ini, masa remajaku, cintaku, patah hatiku, putra.
Menyadari bahwa semanis apapun cinta yang pernah kita miliki, seindah apapun takdir mewarnai hari-hari yang pernah kita miliki bersama, pada akhirnya takdir jugalah yang memisahkan kita. what am I supposed to do, now? Pikirku, Apa yang harus kulakukan sekarang? adakah sekiranya yang bisa ku lakukan lebih dari sekedar menangis terisak-isak di tengah malam buta? Memohon agar kau kembali lagi seperti yang sudah-sudah?  Termenung sepanjang senja hanya untuk mencari tahu kenapa akhirnya bisa jadi seperti ini? Kenapa Tuhan akhirnya mengambilmu dariku? Apakah IA menyadari akhirnya aku bukan orang yang pantas untukmu lalu membiarkanmu berjalan pergi sekali lagi dariku tanpa menyertakan jalan untuk kembali padaku? Atau apakah aku yang tamak, sudah menganggap hatimu padaku sedang sebenarnya aku masih sama seperti punuk merindukan bulan? Aku masih saja heran, Kenapa bisa semanis itu jika akhirnya hanya menyisakan pahit? Aku berjalan hati-hati di atas cinta agar tidak tertusuk duri, namun ternyata cinta itu sendiri yang menghujamkan durinya padaku. Membuat luka yang sukar sembuh, hingga sampai kapanpun aku akan ingat bahwa aku telah berbeda. Hatiku, hariku, dan diriku tak akan sama setelahnya. Aku sangat ingin berteriak marah, tapi pada siapa akan ku bebankan rasa kesalku? Pantaskah aku marah atas keputusanNYA sedang IA harusnya hanya menerima sembah syukurku karena telah bermurah hati menghadirkan putra di hidupku. Nalarku tak sampai mencerna, lalu bagaimana bisa aku meyakinkan hatiku untuk mengikhlaskan. Bagaimana aku membujuk hatiku untuk membebaskannya. Aku menyesap kopi ku sekali lagi, meneguk pahitnya untuk mencari legitnya. Kopi memang teman yang paling mengerti di saat-saat seperti ini, manisnya menenangkan dan pahitnya menahanku untuk tetap sadar. Seperti secangkir kopi yang tengah ku sesap, teguk demi teguknya terus menerus mengingatkan kemanisan kisahku yang berujung pahit, angkuhnya ini terlalu menyindir. Aku kehilangan cintanya, terlebih kehilangan dirinya. Khawatirku tak kunjung usai jika aku terus saja ingat tentang bagaimana aku menghabiskan waktu bersamanya selama ini. Pertanyaan ‘bagaimana besok’ berputar-putar menyudutkanku. Bagaimana bisa aku tak mempunyai kesempatan sama sekali untuk menahannya. Lalu akan seperti apa esok?. Mencintainya sepihak memang sudah tidak awam kurasakan, namun kali ini aku benar-benar kehilangan harapan.
Aku memandang ke sekeliling, café ini juga akan menjadi salah satu kenangan indahku saat bersama teman-temanku, saat bersama putra. Kali ini Alunan piano yiruma yang mengalun indah terdengar menyayat hati, seakan memmbunyikan peluit perpisahan. Aku ingin mengingat setiap detailnya, suasananya, ketenangannya. Aku mengedarkan pandangan sekali lagi dan tergelitik untuk melihat ke luar, mengingat saat dulu aku menunggu putra datang. Sepertinya aku sedang mengaburkan kenangan dengan kenyataan, hingga keindahannya terasa sangat menyedihkan sekarang. Saat akan meletakkan cangkir kopiku, aku terhenyak melihat sesosok bayangan yang sedari tadi tak henti-hentinya memaksa untuk diingat, dikenang seutuhnya, putra. Apa aku tidak sedang berhalusinasi? Aku berusaha menggigit bibirku untuk meyakinkan diri. Aku sadar sepenuhnya, dan aku bisa melihat sejelas-jelasnya. Itu putra. Dia berada di seberang jalan, di toko bunga louise. Ingin sekali untuk tidak penasaran sedang apa ia ke toko bunga. Namun pandanganku tak mau pergi darinya. Seluruh tubuhku terasa nyeri, serasa ada yang sengaja melolosi tulang-tulangku. Bagaimana bisa orang yang sangat ku cintai, bisa menyakitiku sedemikian rupa hanya dengan melihatnya. Aku memandang lamat-lamat pada sosoknya. ia sedang berdiri mematung di depan toko bunga sehabis memarkir sepedanya, seperti  menunggu sesuatu, atau jangan-jangan seseorang. Sesaat kemudian ia berpaling ke arah kafe dimana aku berada, melihat kearah kafe ini. Deg, jantungku serasa berhenti berdetak, aku ingin sekali berdiri, keluar dari tempat ini, melambaikan tangan dengan tersenyum padanya, dan berharap dia akan berjalan kearahku. Namun tidak ada yang ku lakukan, putra tetap tidak menyadari keberadaanku disini, dan aku tetap diam dengan air mata kian menggenang.
Kemudian ia mengambil ponsel di sakunya, seperti membaca atau mengetik sesuatu, ia memutar tubuhnya lalu berjalan masuk ke louise. Aku berusaha bernafas, meletakkan cangkirku yang sedari tadi menggantung gemetar, meletakkannya dengan berderak. Aku menggenggam erat tanganku, berusaha menstabilkan emosiku. Aku sangat ingin bertemu dengannya, namun aku tidak tahu jika efeknya akan seperti ini kepadaku. belum sempat aku menahan air mata yang susah payah ingin menetes, putra keluar dari louise dengan senyuman sabitnya, riang sekali, lalu ia menahan pintu itu untuk tetap terbuka, kemudian seorang perempuan keluar sambil tersenyum renyah padanya, seolah berterimakasih. Aku tersenyum dan menangis, dulu ia akan selalu membuka dan menahan setiap pintu untukku dengan senyuman itu, namun kini ia membukanya untuk orang lain, sama sekali bukan untukku. Siapa.. siapa perempuan itu, aku memperhatikannya lebih jauh, perempuan ayu berwajah teduh, dengan senyum renyah dan kerudungnya yang manis. Dan tiba-tiba saja dengan menetesnya air mataku, dengan rasa sesak di hatiku aku menyadari bahwa aku bukan apa-apa, tiba-tiba saja aku sepertinya tahu kenapa tuhan mengambilnya dariku, tiba-tiba saja sepertinya aku mendapat jawaban tentang ketidak terimaan yang sudah kupikirkan disini sedari tadi.
Perempuan itu berjalan bersisian menuju tempat putra memarkir sepedanya dengan tetap tersenyum dan bercanda. putra menyerahkan sebuah helm dan menaiki sepedanya, lalu perempuan itu sudah berada di boncengannya. Mereka pergi, dan aku termangu menyadari bahwa sudah tak ada yang tersisa untukku, aku merasa kalah telak.
Aku menahan isakanku, menyisakan setetes demi setetes air mata yang tidak berhenti turun. Melipat tanganku dan mengubur wajahku di dalamnya, tidak tahu lagi harus seperti apa. Dalam hati aku merapalkan doa untuk putra, semoga ia tetap akan tersenyum bahagia seperti itu sampai kapanpun, semoga akan tetap ada yang membahagiakannya, menemaninya saat kesepian, selalu berpihak padanya saat ia membutuhkan dukungan, selalu memberinya semangat untuk melakukan kebaikan berantai, seperti yang sudah ia tularkan padaku sebelumnya, dan semoga ia selalu dilindungi olehNYA. Hanya itu kurasa cinta yang masih boleh tersisa, ribuan doa yang berjuntai-juntai untuknya.
Aku merasa kisah cintaku telah usai, namun tidak dengan kenangannya, tidak dengan doa untuknya. Aku mencoba menarik nafas panjang, menyeka air mata dan menepuk –nepuk wajahku untuk mengurangi sembabnya. kemudian aku berdiri dari tempatku duduk, bersiap meninggalkan segala yang ada di kota ini. Aku harus pulang, tiba-tiba saja aku ingin berada di pelukan ayah dan merasakan usapan tulus ibu di kepalaku. Aku sudah siap sekarang, aku akan kembali pulang dan segera bersiap pergi dari kota ini. Memasrahkan hatiku sepenuhnya kepada Tuhan, mengubur semua kesedihan tentang semua ini. Aku berjalan keluar dari café, menyusuri trotoar yang kian mengabur dari pandangan karena air mata yang menggenang. Mencoba mencari jalan pulang tercepat untuk sampai dan segera pergi dari kota yang terlalu memedihkan ini.

Read More......

Tak Terduga


Aku bermimpi menggendong putri kecilmu..
Kecil menggemaskan..
Lucunya tak tertahankan..
Wajah ayu yang mewarisi ibunya..
Mata seteduh ayahnya..

Aku bermimpi menggendong putri kecilmu..
Dengan mata berkaca-kaca ..
Berucap syukur yang tak terbendung..

Sungguh tak terduga..
Tak ada rasa sakit..
Pesonanya memudarkan segala kesedihan..
Aku melangkah pergi dengan hati yang lapang..
Bahagia tanpa alasan..
Dan Tau bahwa 'masih mencintaimu' ternyata juga bisa sedamai ini ..
Tau bahwa 'masih mencintaimu' tidak harus melulu sedih..
Tau bahwa 'masih mencintaimu'  bisa seperti ini..

Read More......