Referral Banners

Jumat, 01 Agustus 2014

next_



Bukan maksud mau Pamer.. cuma.. pengen aja majang disini., walaupun masih acakadul. never mind. let's check it out. cengeng story versiku, ........ 

Aku berjalan di sepanjang jalan menuju ke cafe buku tempat kami menghabiskan waktu selain memandang senja. Merasakan sekali lagi hawanya di sisiku sedang sebenarnya ia sudah jauh pergi meninggalkanku. Hari ini matahari menggantung cerah dan cantik memancarkan apapun yang terkenainya, kontras sekali dengan wajah pucat dan kantung mata gelap yang meriasi wajahku. Namun aku bersyukur masih bisa menghirup segarnya udara siang hari ini. Aku tahu ini salah untuk pergi ke café dengan kondisiku yang seperti ini, tapi aku hanya ingin menikmati jam-jam yang tersisa di kota ini. Aku tersenyum dan menghirup nafas dalam-dalam, membingkai semua memori manis ini di sela-sela kesedihanku. Aku memperlambat langkah kakiku dan menyadari handpone ku bergetar, mungkin ada pesan masuk. Aku mengambilnya dan membaca tulisan yang tertera di layar, benar itu dari tika.
Tika: apa kamu masih bisa berpikir waras? Sebab seisi rumah sudah benar-benar kacau karena tindakanmu. Sebaiknya cepat katakan kamu sedang dimana?
Mila: aku di jalan. Mau ke café buku
Tika: tunggu disana, aku jemput kamu.
Mila: jangan, beri aku waktu. Kita ketemu di rumah saja. Please.
Tika: apa tidak cukup waktu yang sudah kau habiskan dari kemarin untuk membuat hidupmu beresiko dan seisi rumah khawatir?
Mila: tolong, tunggu saja dirumah. Aku segera pulang.
Tika: kau benar-benar membuatku marah sekarang.
            Aku tersenyum membacanya, senang rasanya masih mempunyai sahabat seperti tika, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk tidak menuruti keinginanku sekarang. Aku memasukkan ponsel ke sakuku, terus berjalan mendekati café buku. Aku berhenti disamping café, melihat bangunannya sekilas. Kenapa baru sekarang aku menyadari bahwa tempat ini juga sangat spesial bagiku. Aku memasuki café dan melihat sekeliling, berjalan mendekati bar, memesan seporsi roti bakar dan segelas coffee latte seraya memberi tahu dimana aku akan duduk nantinya. Aku tahu ini hanya akan menambah daftar kesalahanku hari ini, dengan memesan kopi sebagai minuman disaat liverku sakitnya timbul tenggelam, tapi seperti kesalahan yang sudah aku perbuat lainnya, aku hanya harus mengabaikan akhirnya. Aku berjalan mendekati rak dan menuju ke bagian novel, mengambil acak satu dari sekian banyak buku yang ada dan segera berjalan ke tempat duduk favorit, di pojok  samping jendela dan dekat dengan rak buku. Aku membuka dan menelusuri kata-kata indah yang tertulis di buku itu.
Seketika kemudian teringat hari-hari yang telah berlalu, membayangkan saat putra dengan senyum malu-malu membaca puisiku untuknya. “ini.. bagus sekali, aku belum pernah mendapatkan hal yang seperti ini sebelumnya. Kata-katanya begitu menyentuh, kau bisa menjadi penulis suatu saat nanti. Oh.. bagaimana jika kau menulis sebuah cerita, jika kau tidak ada ide.. maka tulis saja kisah kita dari awal.. dengan syarat aku harus jadi orang pertama yang membacanya? Bagaimana menurutmu? Apa kau sanggup?” aku tersenyum mengingat keinginannya, jika sekarang sudah tertebak akhirnya, maka bagaimana ia bisa menjadi pembaca pertama tulisanku? Atau aku hanya perlu menulis apapun yang ingin ku tulis, suatu saat ketika orang membacanya mungkin cerita yang ku tulis akan di dengarnya, dengan begitu ia akhirnya akan tahu bahwa aku sudah berusaha sejauh itu  untuk mewujudkan cita-cita ku. Disaat aku berpikir tentangnya, pramusaji meletakkan apa yang sudah ku pesan di mejaku, sambil tersenyum ramah mempersilahkanku. Aku tertular senyumannya. Aku meletakkan novel di meja dan berpaling pada secangkir kopi di mejaku, ingin sekali menyesap pahitnya. Aku mengangkat cangkir itu dan menghirup aroma kopi yang menggoda, menyesapnya dengan mata terpejam hingga pahitnya akan terasa lebih pekat. Kemudian tersenyum perih karena liver yang tak terima jika tak diacuhkan. Cukup untuk kebahagiaan sesaat dengan kopi, aku memandang keluar dari balik jendela dan melihat kuasa sinar matahari yang terik di sepanjang jalan sejauh mata memandang, mulai termangu merangkai kata-kata dalam pikiranku. Merasakan dan membingkai setiap ingatan yang tersisa di kota ini, masa remajaku, cintaku, patah hatiku, putra.
Menyadari bahwa semanis apapun cinta yang pernah kita miliki, seindah apapun takdir mewarnai hari-hari yang pernah kita miliki bersama, pada akhirnya takdir jugalah yang memisahkan kita. what am I supposed to do, now? Pikirku, Apa yang harus kulakukan sekarang? adakah sekiranya yang bisa ku lakukan lebih dari sekedar menangis terisak-isak di tengah malam buta? Memohon agar kau kembali lagi seperti yang sudah-sudah?  Termenung sepanjang senja hanya untuk mencari tahu kenapa akhirnya bisa jadi seperti ini? Kenapa Tuhan akhirnya mengambilmu dariku? Apakah IA menyadari akhirnya aku bukan orang yang pantas untukmu lalu membiarkanmu berjalan pergi sekali lagi dariku tanpa menyertakan jalan untuk kembali padaku? Atau apakah aku yang tamak, sudah menganggap hatimu padaku sedang sebenarnya aku masih sama seperti punuk merindukan bulan? Aku masih saja heran, Kenapa bisa semanis itu jika akhirnya hanya menyisakan pahit? Aku berjalan hati-hati di atas cinta agar tidak tertusuk duri, namun ternyata cinta itu sendiri yang menghujamkan durinya padaku. Membuat luka yang sukar sembuh, hingga sampai kapanpun aku akan ingat bahwa aku telah berbeda. Hatiku, hariku, dan diriku tak akan sama setelahnya. Aku sangat ingin berteriak marah, tapi pada siapa akan ku bebankan rasa kesalku? Pantaskah aku marah atas keputusanNYA sedang IA harusnya hanya menerima sembah syukurku karena telah bermurah hati menghadirkan putra di hidupku. Nalarku tak sampai mencerna, lalu bagaimana bisa aku meyakinkan hatiku untuk mengikhlaskan. Bagaimana aku membujuk hatiku untuk membebaskannya. Aku menyesap kopi ku sekali lagi, meneguk pahitnya untuk mencari legitnya. Kopi memang teman yang paling mengerti di saat-saat seperti ini, manisnya menenangkan dan pahitnya menahanku untuk tetap sadar. Seperti secangkir kopi yang tengah ku sesap, teguk demi teguknya terus menerus mengingatkan kemanisan kisahku yang berujung pahit, angkuhnya ini terlalu menyindir. Aku kehilangan cintanya, terlebih kehilangan dirinya. Khawatirku tak kunjung usai jika aku terus saja ingat tentang bagaimana aku menghabiskan waktu bersamanya selama ini. Pertanyaan ‘bagaimana besok’ berputar-putar menyudutkanku. Bagaimana bisa aku tak mempunyai kesempatan sama sekali untuk menahannya. Lalu akan seperti apa esok?. Mencintainya sepihak memang sudah tidak awam kurasakan, namun kali ini aku benar-benar kehilangan harapan.
Aku memandang ke sekeliling, café ini juga akan menjadi salah satu kenangan indahku saat bersama teman-temanku, saat bersama putra. Kali ini Alunan piano yiruma yang mengalun indah terdengar menyayat hati, seakan memmbunyikan peluit perpisahan. Aku ingin mengingat setiap detailnya, suasananya, ketenangannya. Aku mengedarkan pandangan sekali lagi dan tergelitik untuk melihat ke luar, mengingat saat dulu aku menunggu putra datang. Sepertinya aku sedang mengaburkan kenangan dengan kenyataan, hingga keindahannya terasa sangat menyedihkan sekarang. Saat akan meletakkan cangkir kopiku, aku terhenyak melihat sesosok bayangan yang sedari tadi tak henti-hentinya memaksa untuk diingat, dikenang seutuhnya, putra. Apa aku tidak sedang berhalusinasi? Aku berusaha menggigit bibirku untuk meyakinkan diri. Aku sadar sepenuhnya, dan aku bisa melihat sejelas-jelasnya. Itu putra. Dia berada di seberang jalan, di toko bunga louise. Ingin sekali untuk tidak penasaran sedang apa ia ke toko bunga. Namun pandanganku tak mau pergi darinya. Seluruh tubuhku terasa nyeri, serasa ada yang sengaja melolosi tulang-tulangku. Bagaimana bisa orang yang sangat ku cintai, bisa menyakitiku sedemikian rupa hanya dengan melihatnya. Aku memandang lamat-lamat pada sosoknya. ia sedang berdiri mematung di depan toko bunga sehabis memarkir sepedanya, seperti  menunggu sesuatu, atau jangan-jangan seseorang. Sesaat kemudian ia berpaling ke arah kafe dimana aku berada, melihat kearah kafe ini. Deg, jantungku serasa berhenti berdetak, aku ingin sekali berdiri, keluar dari tempat ini, melambaikan tangan dengan tersenyum padanya, dan berharap dia akan berjalan kearahku. Namun tidak ada yang ku lakukan, putra tetap tidak menyadari keberadaanku disini, dan aku tetap diam dengan air mata kian menggenang.
Kemudian ia mengambil ponsel di sakunya, seperti membaca atau mengetik sesuatu, ia memutar tubuhnya lalu berjalan masuk ke louise. Aku berusaha bernafas, meletakkan cangkirku yang sedari tadi menggantung gemetar, meletakkannya dengan berderak. Aku menggenggam erat tanganku, berusaha menstabilkan emosiku. Aku sangat ingin bertemu dengannya, namun aku tidak tahu jika efeknya akan seperti ini kepadaku. belum sempat aku menahan air mata yang susah payah ingin menetes, putra keluar dari louise dengan senyuman sabitnya, riang sekali, lalu ia menahan pintu itu untuk tetap terbuka, kemudian seorang perempuan keluar sambil tersenyum renyah padanya, seolah berterimakasih. Aku tersenyum dan menangis, dulu ia akan selalu membuka dan menahan setiap pintu untukku dengan senyuman itu, namun kini ia membukanya untuk orang lain, sama sekali bukan untukku. Siapa.. siapa perempuan itu, aku memperhatikannya lebih jauh, perempuan ayu berwajah teduh, dengan senyum renyah dan kerudungnya yang manis. Dan tiba-tiba saja dengan menetesnya air mataku, dengan rasa sesak di hatiku aku menyadari bahwa aku bukan apa-apa, tiba-tiba saja aku sepertinya tahu kenapa tuhan mengambilnya dariku, tiba-tiba saja sepertinya aku mendapat jawaban tentang ketidak terimaan yang sudah kupikirkan disini sedari tadi.
Perempuan itu berjalan bersisian menuju tempat putra memarkir sepedanya dengan tetap tersenyum dan bercanda. putra menyerahkan sebuah helm dan menaiki sepedanya, lalu perempuan itu sudah berada di boncengannya. Mereka pergi, dan aku termangu menyadari bahwa sudah tak ada yang tersisa untukku, aku merasa kalah telak.
Aku menahan isakanku, menyisakan setetes demi setetes air mata yang tidak berhenti turun. Melipat tanganku dan mengubur wajahku di dalamnya, tidak tahu lagi harus seperti apa. Dalam hati aku merapalkan doa untuk putra, semoga ia tetap akan tersenyum bahagia seperti itu sampai kapanpun, semoga akan tetap ada yang membahagiakannya, menemaninya saat kesepian, selalu berpihak padanya saat ia membutuhkan dukungan, selalu memberinya semangat untuk melakukan kebaikan berantai, seperti yang sudah ia tularkan padaku sebelumnya, dan semoga ia selalu dilindungi olehNYA. Hanya itu kurasa cinta yang masih boleh tersisa, ribuan doa yang berjuntai-juntai untuknya.
Aku merasa kisah cintaku telah usai, namun tidak dengan kenangannya, tidak dengan doa untuknya. Aku mencoba menarik nafas panjang, menyeka air mata dan menepuk –nepuk wajahku untuk mengurangi sembabnya. kemudian aku berdiri dari tempatku duduk, bersiap meninggalkan segala yang ada di kota ini. Aku harus pulang, tiba-tiba saja aku ingin berada di pelukan ayah dan merasakan usapan tulus ibu di kepalaku. Aku sudah siap sekarang, aku akan kembali pulang dan segera bersiap pergi dari kota ini. Memasrahkan hatiku sepenuhnya kepada Tuhan, mengubur semua kesedihan tentang semua ini. Aku berjalan keluar dari café, menyusuri trotoar yang kian mengabur dari pandangan karena air mata yang menggenang. Mencoba mencari jalan pulang tercepat untuk sampai dan segera pergi dari kota yang terlalu memedihkan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar