Bukan maksud mau Pamer.. cuma.. pengen aja majang disini., walaupun masih acakadul. never mind. let's check it out. cengeng story versiku, ........
Aku
berjalan di sepanjang jalan menuju ke cafe buku tempat kami menghabiskan waktu
selain memandang senja. Merasakan sekali lagi hawanya di sisiku sedang
sebenarnya ia sudah jauh pergi meninggalkanku. Hari ini matahari menggantung
cerah dan cantik memancarkan apapun yang terkenainya, kontras sekali dengan
wajah pucat dan kantung mata gelap yang meriasi wajahku. Namun aku bersyukur
masih bisa menghirup segarnya udara siang hari ini. Aku tahu ini salah untuk
pergi ke café dengan kondisiku yang seperti ini, tapi aku hanya ingin menikmati
jam-jam yang tersisa di kota ini. Aku tersenyum dan menghirup nafas
dalam-dalam, membingkai semua memori manis ini di sela-sela kesedihanku. Aku
memperlambat langkah kakiku dan menyadari handpone ku bergetar, mungkin ada
pesan masuk. Aku mengambilnya dan membaca tulisan yang tertera di layar, benar
itu dari tika.
Tika: apa kamu masih bisa berpikir
waras? Sebab seisi rumah sudah benar-benar kacau karena tindakanmu. Sebaiknya
cepat katakan kamu sedang dimana?
Mila: aku di jalan. Mau ke café buku
Tika: tunggu disana, aku jemput kamu.
Mila: jangan, beri aku waktu. Kita
ketemu di rumah saja. Please.
Tika: apa tidak cukup waktu yang sudah
kau habiskan dari kemarin untuk membuat hidupmu beresiko dan seisi rumah khawatir?
Mila: tolong, tunggu saja dirumah. Aku
segera pulang.
Tika: kau benar-benar membuatku marah
sekarang.
Aku tersenyum membacanya, senang
rasanya masih mempunyai sahabat seperti tika, tapi aku juga tidak bisa berbuat
apa-apa untuk tidak menuruti keinginanku sekarang. Aku memasukkan ponsel ke
sakuku, terus berjalan mendekati café buku. Aku berhenti disamping café,
melihat bangunannya sekilas. Kenapa baru sekarang aku menyadari bahwa tempat
ini juga sangat spesial bagiku. Aku memasuki café dan melihat sekeliling,
berjalan mendekati bar, memesan seporsi roti bakar dan segelas coffee latte seraya
memberi tahu dimana aku akan duduk nantinya. Aku tahu ini hanya akan menambah
daftar kesalahanku hari ini, dengan memesan kopi sebagai minuman disaat liverku
sakitnya timbul tenggelam, tapi seperti kesalahan yang sudah aku perbuat
lainnya, aku hanya harus mengabaikan akhirnya. Aku berjalan mendekati rak dan
menuju ke bagian novel, mengambil acak satu dari sekian banyak buku yang ada
dan segera berjalan ke tempat duduk favorit, di pojok samping jendela dan dekat dengan rak buku.
Aku membuka dan menelusuri kata-kata indah yang tertulis di buku itu.
Seketika
kemudian teringat hari-hari yang telah berlalu, membayangkan saat putra dengan
senyum malu-malu membaca puisiku untuknya. “ini..
bagus sekali, aku belum pernah mendapatkan hal yang seperti ini sebelumnya.
Kata-katanya begitu menyentuh, kau bisa menjadi penulis suatu saat nanti. Oh..
bagaimana jika kau menulis sebuah cerita, jika kau tidak ada ide.. maka tulis
saja kisah kita dari awal.. dengan syarat aku harus jadi orang pertama yang
membacanya? Bagaimana menurutmu? Apa kau sanggup?” aku tersenyum mengingat
keinginannya, jika sekarang sudah tertebak akhirnya, maka bagaimana ia bisa
menjadi pembaca pertama tulisanku? Atau aku hanya perlu menulis apapun yang
ingin ku tulis, suatu saat ketika orang membacanya mungkin cerita yang ku tulis
akan di dengarnya, dengan begitu ia akhirnya akan tahu bahwa aku sudah berusaha
sejauh itu untuk mewujudkan cita-cita
ku. Disaat aku berpikir tentangnya, pramusaji meletakkan apa yang sudah ku
pesan di mejaku, sambil tersenyum ramah mempersilahkanku. Aku tertular senyumannya.
Aku meletakkan novel di meja dan berpaling pada secangkir kopi di mejaku, ingin
sekali menyesap pahitnya. Aku mengangkat cangkir itu dan menghirup aroma kopi
yang menggoda, menyesapnya dengan mata terpejam hingga pahitnya akan terasa lebih
pekat. Kemudian tersenyum perih karena liver yang tak terima jika tak
diacuhkan. Cukup untuk kebahagiaan sesaat dengan kopi, aku memandang keluar
dari balik jendela dan melihat kuasa sinar matahari yang terik di sepanjang
jalan sejauh mata memandang, mulai termangu merangkai kata-kata dalam
pikiranku. Merasakan dan membingkai setiap ingatan yang tersisa di kota ini,
masa remajaku, cintaku, patah hatiku, putra.
Menyadari
bahwa semanis apapun cinta yang pernah kita miliki, seindah apapun takdir
mewarnai hari-hari yang pernah kita miliki bersama, pada akhirnya takdir
jugalah yang memisahkan kita. what am I
supposed to do, now? Pikirku, Apa yang harus kulakukan sekarang? adakah
sekiranya yang bisa ku lakukan lebih dari sekedar menangis terisak-isak di
tengah malam buta? Memohon agar kau kembali lagi seperti yang sudah-sudah? Termenung sepanjang senja hanya untuk mencari
tahu kenapa akhirnya bisa jadi seperti ini? Kenapa Tuhan akhirnya mengambilmu
dariku? Apakah IA menyadari akhirnya aku bukan orang yang pantas untukmu lalu
membiarkanmu berjalan pergi sekali lagi dariku tanpa menyertakan jalan untuk kembali
padaku? Atau apakah aku yang tamak, sudah menganggap hatimu padaku sedang
sebenarnya aku masih sama seperti punuk merindukan bulan? Aku masih saja heran,
Kenapa bisa semanis itu jika akhirnya hanya menyisakan pahit? Aku berjalan
hati-hati di atas cinta agar tidak tertusuk duri, namun ternyata cinta itu
sendiri yang menghujamkan durinya padaku. Membuat luka yang sukar sembuh,
hingga sampai kapanpun aku akan ingat bahwa aku telah berbeda. Hatiku, hariku,
dan diriku tak akan sama setelahnya. Aku sangat ingin berteriak marah, tapi
pada siapa akan ku bebankan rasa kesalku? Pantaskah aku marah atas keputusanNYA
sedang IA harusnya hanya menerima sembah syukurku karena telah bermurah hati
menghadirkan putra di hidupku. Nalarku tak sampai mencerna, lalu bagaimana bisa
aku meyakinkan hatiku untuk mengikhlaskan. Bagaimana aku membujuk hatiku untuk
membebaskannya. Aku menyesap kopi ku sekali lagi, meneguk pahitnya untuk
mencari legitnya. Kopi memang teman yang paling mengerti di saat-saat seperti
ini, manisnya menenangkan dan pahitnya menahanku untuk tetap sadar. Seperti
secangkir kopi yang tengah ku sesap, teguk demi teguknya terus menerus
mengingatkan kemanisan kisahku yang berujung pahit, angkuhnya ini terlalu menyindir.
Aku kehilangan cintanya, terlebih kehilangan dirinya. Khawatirku tak kunjung
usai jika aku terus saja ingat tentang bagaimana aku menghabiskan waktu bersamanya
selama ini. Pertanyaan ‘bagaimana besok’ berputar-putar menyudutkanku.
Bagaimana bisa aku tak mempunyai kesempatan sama sekali untuk menahannya. Lalu
akan seperti apa esok?. Mencintainya sepihak memang sudah tidak awam kurasakan,
namun kali ini aku benar-benar kehilangan harapan.
Aku
memandang ke sekeliling, café ini juga akan menjadi salah satu kenangan indahku
saat bersama teman-temanku, saat bersama putra. Kali ini Alunan piano yiruma
yang mengalun indah terdengar menyayat hati, seakan memmbunyikan peluit
perpisahan. Aku ingin mengingat setiap detailnya, suasananya, ketenangannya.
Aku mengedarkan pandangan sekali lagi dan tergelitik untuk melihat ke luar,
mengingat saat dulu aku menunggu putra datang. Sepertinya aku sedang
mengaburkan kenangan dengan kenyataan, hingga keindahannya terasa sangat
menyedihkan sekarang. Saat akan meletakkan cangkir kopiku, aku terhenyak
melihat sesosok bayangan yang sedari tadi tak henti-hentinya memaksa untuk
diingat, dikenang seutuhnya, putra. Apa aku tidak sedang berhalusinasi? Aku
berusaha menggigit bibirku untuk meyakinkan diri. Aku sadar sepenuhnya, dan aku
bisa melihat sejelas-jelasnya. Itu putra. Dia berada di seberang jalan, di toko
bunga louise. Ingin sekali untuk tidak penasaran sedang apa ia ke toko bunga.
Namun pandanganku tak mau pergi darinya. Seluruh tubuhku terasa nyeri, serasa
ada yang sengaja melolosi tulang-tulangku. Bagaimana bisa orang yang sangat ku
cintai, bisa menyakitiku sedemikian rupa hanya dengan melihatnya. Aku memandang
lamat-lamat pada sosoknya. ia sedang berdiri mematung di depan toko bunga
sehabis memarkir sepedanya, seperti
menunggu sesuatu, atau jangan-jangan seseorang. Sesaat kemudian ia
berpaling ke arah kafe dimana aku berada, melihat kearah kafe ini. Deg,
jantungku serasa berhenti berdetak, aku ingin sekali berdiri, keluar dari
tempat ini, melambaikan tangan dengan tersenyum padanya, dan berharap dia akan
berjalan kearahku. Namun tidak ada yang ku lakukan, putra tetap tidak menyadari
keberadaanku disini, dan aku tetap diam dengan air mata kian menggenang.
Kemudian
ia mengambil ponsel di sakunya, seperti membaca atau mengetik sesuatu, ia
memutar tubuhnya lalu berjalan masuk ke louise. Aku berusaha bernafas,
meletakkan cangkirku yang sedari tadi menggantung gemetar, meletakkannya dengan
berderak. Aku menggenggam erat tanganku, berusaha menstabilkan emosiku. Aku
sangat ingin bertemu dengannya, namun aku tidak tahu jika efeknya akan seperti
ini kepadaku. belum sempat aku menahan air mata yang susah payah ingin menetes,
putra keluar dari louise dengan senyuman sabitnya, riang sekali, lalu ia
menahan pintu itu untuk tetap terbuka, kemudian seorang perempuan keluar sambil
tersenyum renyah padanya, seolah berterimakasih. Aku tersenyum dan menangis,
dulu ia akan selalu membuka dan menahan setiap pintu untukku dengan senyuman
itu, namun kini ia membukanya untuk orang lain, sama sekali bukan untukku.
Siapa.. siapa perempuan itu, aku memperhatikannya lebih jauh, perempuan ayu
berwajah teduh, dengan senyum renyah dan kerudungnya yang manis. Dan tiba-tiba
saja dengan menetesnya air mataku, dengan rasa sesak di hatiku aku menyadari
bahwa aku bukan apa-apa, tiba-tiba saja aku sepertinya tahu kenapa tuhan
mengambilnya dariku, tiba-tiba saja sepertinya aku mendapat jawaban tentang
ketidak terimaan yang sudah kupikirkan disini sedari tadi.
Perempuan
itu berjalan bersisian menuju tempat putra memarkir sepedanya dengan tetap tersenyum
dan bercanda. putra menyerahkan sebuah helm dan menaiki sepedanya, lalu
perempuan itu sudah berada di boncengannya. Mereka pergi, dan aku termangu
menyadari bahwa sudah tak ada yang tersisa untukku, aku merasa kalah telak.
Aku
menahan isakanku, menyisakan setetes demi setetes air mata yang tidak berhenti
turun. Melipat tanganku dan mengubur wajahku di dalamnya, tidak tahu lagi harus
seperti apa. Dalam hati aku merapalkan doa untuk putra, semoga ia tetap akan
tersenyum bahagia seperti itu sampai kapanpun, semoga akan tetap ada yang
membahagiakannya, menemaninya saat kesepian, selalu berpihak padanya saat ia
membutuhkan dukungan, selalu memberinya semangat untuk melakukan kebaikan
berantai, seperti yang sudah ia tularkan padaku sebelumnya, dan semoga ia selalu
dilindungi olehNYA. Hanya itu kurasa cinta yang masih boleh tersisa, ribuan doa
yang berjuntai-juntai untuknya.
Aku merasa kisah
cintaku telah usai, namun tidak dengan kenangannya, tidak dengan doa untuknya.
Aku mencoba menarik nafas panjang, menyeka air mata dan menepuk –nepuk wajahku untuk
mengurangi sembabnya. kemudian aku berdiri dari tempatku duduk, bersiap
meninggalkan segala yang ada di kota ini. Aku harus pulang, tiba-tiba saja aku
ingin berada di pelukan ayah dan merasakan usapan tulus ibu di kepalaku. Aku
sudah siap sekarang, aku akan kembali pulang dan segera bersiap pergi dari kota
ini. Memasrahkan hatiku sepenuhnya kepada Tuhan, mengubur semua kesedihan
tentang semua ini. Aku berjalan keluar dari café, menyusuri trotoar yang kian
mengabur dari pandangan karena air mata yang menggenang. Mencoba mencari jalan
pulang tercepat untuk sampai dan segera pergi dari kota yang terlalu memedihkan
ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar