Tak ada cukup banyak
waktu untuk merasakan yang menghujam-hujam di dada. Tak ada cukup temaram yang
bisa menyembunyikan mataku yang sudah lama berkaca-kaca. Hanya karena ingin
bertahan dalam keadaan "aku baik-baik saja" bahkan air mata itu hanya
menggenang. Bersedia menahan lajunya untuk kering di pipi.
Mendadak khawatir,
apa yang seharusnya tertulis disini. Pantaskah terbaca? Bolehkah terbaca? Tak
apa-apa kah terbaca?
Merinduimu dan
kenyang hanya dengan membaca nasihat-nasihatmu, apakah tak cukup? Entahlah. Aku
hanya mengikuti naluri untuk bisa sampai mengetik seperti ini. Di detik aku
mengalur dalam cerita ini.. Aku semakin tak tahu.. Untuk apa semua ini? Kenapa
harus merinduimu? Kenapa membutuhkanmu disisiku? Kenapa begitu berpikiran
membutuhkanmu? Bahkan kenapa aku mencintaimu? Apa itu sebenarnya cinta? Apakah
ini benar.. "aku mencintaimu."? Ada apa dengan semua rasa ini..? Yang
membuat tersenyum dan tersedu-sedu, yang membuat tertawa dan diam, yang
membagiakan dan yang membuat sedih, yang bisa membuatku merasa sakit di dada
dan yang membuatku bebas.
Aku menggunakanmu.
Menggunakanmu untuk Kepada-Nya. Dan
dengan segala percaya ku yang salah, berharap menahanmu disisiku lebih lama,
egoisku yang berlebihan, dan setelah itu kepergianmu. Atau kecerobohanku tak
menahanmu. Adalah sesuatu yang sampai sekarang tak ada duanya, bukan rasa
menyesalnya. Tapi karena sedari awal aku yang tak bisa berdiri diatas kaki ku
sendiri untuk sampai kepadaNya. Melipat sayap rapi-rapi dan
mempergunakanmu.
Kini, jika aku
merinduimu. Hanya karena aku seperti kehilangan sayapku. Teman untuk saling
menasehati. Ah, bukan. Bukan saling. Tapi teman yang selalu menasehatiku. Yang
bersedia duduk diam bersamaku saat semua waktu selalu memaksaku bergerak. Yang selalu mengingatkanku betapa
mencintaiNya adalah segala-galanya.
Banyak yang, yang tak bisa tertera semua disini. Paragraf-paragraf ini
hanya merepresentasikan secuil dari efek keberadaanmu. Dan judul ini adalah
secuil dari efek ketidakberadaan fisikmu, nasehatmu, kata-katamu.
Entah kenapa aku
percaya sekali padamu. Aku selalu
berusaha melihat bintang itu. Aku tahu ia akan tetap disana. Menjadi tombol
pengingat. Kau pandai sekali, selalu punya cara untuk mempersiapkan perpisahan. Ah sudahlah, bicara tentangmu tak kan
usai-usai. Cukup aku lega sudah mengatakan apa yang ku rasa, dalam kata di judul postingan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar