Referral Banners

Senin, 25 Agustus 2014

Rindu . . .


Tak ada cukup banyak waktu untuk merasakan yang menghujam-hujam di dada. Tak ada cukup temaram yang bisa menyembunyikan mataku yang sudah lama berkaca-kaca. Hanya karena ingin bertahan dalam keadaan "aku baik-baik saja" bahkan air mata itu hanya menggenang. Bersedia menahan lajunya untuk kering di pipi.

Mendadak khawatir, apa yang seharusnya tertulis disini. Pantaskah terbaca? Bolehkah terbaca? Tak apa-apa kah terbaca?

Merinduimu dan kenyang hanya dengan membaca nasihat-nasihatmu, apakah tak cukup? Entahlah. Aku hanya mengikuti naluri untuk bisa sampai mengetik seperti ini. Di detik aku mengalur dalam cerita ini.. Aku semakin tak tahu.. Untuk apa semua ini? Kenapa harus merinduimu? Kenapa membutuhkanmu disisiku? Kenapa begitu berpikiran membutuhkanmu? Bahkan kenapa aku mencintaimu? Apa itu sebenarnya cinta? Apakah ini benar.. "aku mencintaimu."? Ada apa dengan semua rasa ini..? Yang membuat tersenyum dan tersedu-sedu, yang membuat tertawa dan diam, yang membagiakan dan yang membuat sedih, yang bisa membuatku merasa sakit di dada dan yang membuatku bebas.


Aku menggunakanmu. Menggunakanmu untuk Kepada-Nya.  Dan dengan segala percaya ku yang salah, berharap menahanmu disisiku lebih lama, egoisku yang berlebihan, dan setelah itu kepergianmu. Atau kecerobohanku tak menahanmu. Adalah sesuatu yang sampai sekarang tak ada duanya, bukan rasa menyesalnya. Tapi karena sedari awal aku yang tak bisa berdiri diatas kaki ku sendiri untuk sampai kepadaNya. Melipat sayap rapi-rapi dan mempergunakanmu. 

Kini, jika aku merinduimu. Hanya karena aku seperti kehilangan sayapku. Teman untuk saling menasehati. Ah, bukan. Bukan saling. Tapi teman yang selalu menasehatiku. Yang bersedia duduk diam bersamaku saat semua waktu selalu memaksaku bergerak.  Yang selalu mengingatkanku betapa mencintaiNya adalah segala-galanya.  Banyak yang, yang tak bisa tertera semua disini. Paragraf-paragraf ini hanya merepresentasikan secuil dari efek keberadaanmu. Dan judul ini adalah secuil dari efek ketidakberadaan fisikmu, nasehatmu, kata-katamu.

Entah kenapa aku percaya sekali padamu.  Aku selalu berusaha melihat bintang itu. Aku tahu ia akan tetap disana. Menjadi tombol pengingat. Kau pandai sekali, selalu punya cara untuk mempersiapkan perpisahan.  Ah sudahlah, bicara tentangmu tak kan usai-usai. Cukup aku lega sudah mengatakan apa yang ku rasa, dalam  kata di judul postingan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar