..............
...............
“kau ingin kemana lagi
setelah ini?”
“apa?” tanyaku tak mengerti, dari tadi putra sibuk
bertanya aku ingin kemana.
“katanya kangen? Setelah
ini mau kemana lagi? Apa yang kau inginkan untuk kita lakukan selanjutnya?”
“bukankah ini sudah
terlalu malam? Hampir pukul 10 malam. Yah, memang benar aku di ijinkan keluar
denganmu hari ini. Tapi bukankah masih ada esok? Besok dan seterusnya? Kita
masih punya banyak waktu dan rencana untuk di jalankan. Sekarang aku hanya
ingin disini sebentar. Sudah lama kita tidak berada disini saat senja, atau
saat yang lainnya.” Aku terus saja mengoceh tanpa melihat putra yang sudah
duduk bersandar di belakangku.
Aku
melihat langit jernih yang bertabur bintang-bintang. Ia diam melihat tingkahku.
Hari ini dia terus memperhatikanku, bahkan sempat tertangkap basah melihatku
diam-diam. Apa dia rindu padaku? Atau apa
ia menyimpan sesuatu dariku? atau dia tahu aku sedang sakit? Aku sama
sekali tidak punya waktu untuk mengingat bahwa aku ingin bertanya perihal
kedatangannya yang sudah seminggu lalu ke kota ini tetapi baru memberi tahuku
kemarin senja.
Whine
chime bergemerincing indah ketika angin tiba-tiba berhembus dengan pelan. Lalu
begitu saja aku teringat tentang hasil lab kesehatanku yang akan aku ambil
besok, entah apapun hasilnya aku hanya bisa berdoa yang terbaik dan pasrah
kepadaNYA. Aku belum memberitahu putra bahwa dua minggu lalu aku sakit dan
harus dirawat selama beberapa hari di rumah sakit, dan aku juga belum
memberitahunya tentang cek lab itu. Aku rasa ini saatnya aku untuk
memberitahunya.
“aku ingin
memberitahumu sesuatu” katanya kemudian. Aku terkejut ia dapat menyuarakan apa
yang sedang aku pikirkan.
“aku juga..” sahutku
menimpali keinginan kami yang tercetus bersamaan, atau mungkin hanya
perasaanku. Karena ia sepertinya telah menyiapkan semuanya, dan aku tidak.
“kau dulu saja.. “
tambahku. Ia menarik nafas dengan berat, dan kemudian mulai bicara.
“tentang hubungan
kita.. kita tidak bisa terus seperti ini..” katanya
“maksudnya?” sahutku
tak mengerti, aku merasa hubungan kita baik-baik saja.
“kita sudah jarang
berhubungan, kau juga sudah sering tidak menghubungiku juga..aku ingin
bertanya, dan dulu sekali aku juga sudah pernah bertanya. Apakah jika kita
sudah tidak sejalan, kau akan terus memaksakan untuk bersama? Atau apakah jika
antara aku atau kau sudah tidak mencintai yang lainnya, kita akan terus
memaksakan bersama?”
Aku limbung dengan pertanyaan dan pernyataannya. Aku
sungguh tidak mendapatkan ide tentang apakah ini semuanya? Aku yakin hubungan
kita baik-baik saja, kecuali beberapa mimpi burukku tentang aku yang tengah
berdiri sendiri di sebuah jalan yang gelap, dan dua minggu lalu sepulang aku dari
rumah sakit, aku meneleponnya karena ingin memberi kabar namun yang terjadi aku
berakhir berkata bahwa aku masih sangat menyayanginya dan tidak mau
kehilangannya, saat itu dia hanya bilang mengerti tentang perasaanku namun tak
membalas perkataanku. Bukankah kau yang
bilang seharusnya kita tidak terlalu sering menelepon atau bertemu agar tidak
terjadi hal-hal yang menyalahi aturan? Kenapa ini semua seakan berbalik
kepadaku?,
“jawab aku..” dia
bekata pelan seolah putus asa. Dan aku menganggukkan kepalaku, pertanda setuju,
saat sadar bahwa mungkin ia tak melihatku, aku buru-buru menambahkan dalam
ucapanku.
“iya, kau sudah pernah
bertanya seperti itu. Dan jawabanku tetap sama. Walaupun aku mencintaimu, tapi
saat kau tidak, aku tidak akan menahanmu karena itu hanya akan menyakitimu. Dan
soal telepon, bukankah kita sepakat untuk tidak terlalu sering menelepon satu
sama lain?”
“kita sudah tidak bisa
bersama-sama lagi.. kita lebih cocok sebagai adik kakak yang saling menjaga..”
aku mendengarnya berkata hati-hati. Seperti ada ribuan jarum yang tiba-tiba
menusuk-nusuk di dadaku. Aku tidak bisa menangis, pun aku tak bisa tertawa. Aku
tahu aku akan segera kehilangannya, aku bingung, aku tak ingin menahannya hanya
untuk membuatnya sakit. Tapi aku mencintainya, amat sangat masih menyayanginya,
aku masih membutuhkannya untuk diriku sendiri. Aku kebas oleh perasaan kaget
yang bertubi-tubi.
“kenapa..?” aku berkata
serak. Namun aku tahu tak akan mendapatkan jawaban dari pertanyaanku, aku ingin
bertanya apakah kau sudah tidak
mencintaiku lagi? Namun aku terlalu takut untuk mendengar jawaban yang
tidak kuinginkan, aku tidak sesiap yang putra bayangkan untuk mendapat yang
lebih dari ini semua.
“apa tidak ada jalan
untuk kau kembali lagi denganku?”
“aku tidak tahu, kita
tidak tahu jalan ke depan seperti apa..jika Tuhan memberikan jalan kembali,
tentu aku akan kembali” ia memberiku jawaban yang skeptis. Tapi kau tak akan mengusahakan kita kembali? Batinku menjerit tidak
terima dengan ketidaknyamanan kenyataan yang sedang aku hadapi. Ya Tuhan, ia sudah tak mencintaiku lagi.. batinku
mendengus sedih. Aku hanya bisa diam, aku perlu untuk selalu ingat bernafas dan
tetap sadar untuk mendengar kata apa lagi yang akan putra katakan.
“berbaliklah, aku perlu
melihatmu baik-baik saja, kenapa kau tetap diam?” kata putra kemudian. Apa kau sejahat itu sekarang? Perlu untuk
melihatku baik-baik saja? Apa tak pernah terpikirkan olehmu kata apa yang sudah
kau ucapkan dan masih berharap aku baik-baik saja? Baik-baik saja seperti apa
yang kau maksud? Tidak menangis, tidak menjerit? Tetap tenang dan tersenyum?
Akan aku lakukan apapun yang kau ingin dan butuh lihat dariku, lagi pula hanya
itu yang tersisa untukku. Aku berbalik dan menuju ke arahnya, duduk
bersamanya, tetap tenang seperti apa yang ia ingin lihat, aku sudah kebas.
“apa kau akan tetap
menahanku..?”
“tidak..” jawabku
dengan berat hati. Aku tidak sanggup menatapnya, aku begitu mencintainya,
percaya dengan segenap apa yang ku miliki, tetapi yang ia lakukan adalah
meninggalkanku, aku pikir aku bisa apa?.
Aku menunduk dalam-dalam, berusaha meneguhkan hati oleh apa yang akan terjadi
kemudian.
“aku ingin kita tetap
berteman, tetap mendoakan satu sama lain. Tetap menyapa ketika kita saling
bertemu. Terimakasih sudah pernah menjadi bagian dari hidupku. Maafkan aku yang
selalu banyak salah. Aku tidak ingin ke depannya, jika memang tidak ada jalan
untuk kita kembali bersama-sama lalu kita menjadi musuh.”
“aku mengerti..”
jawabku. Bodoh.. aku sama sekali tidak
akan pernah lupa untuk berdoa demi kebahagianmu..karena aku mencintaimu, cinta
pertamaku. Sesakit apapun ini, kau sudah menjadi lilin dalam hatiku, yang
cahayanya tak akan kubiarkan padam walau kau akhirnya pergi dariku.. jeritku
dalam hati.
“aku yakin kau akan
lebih baik jika tidak bersamaku. kau tidak akan membutuhkanku. Kau sudah jauh
lebih kuat, lebih pandai, dan yang terpenting kau sudah jauh lebih bisa
tanpaku, disaat ada orang yang masih membutuhkanku. kau tahu dimana kau dapat
menemuiku jika membutuhkanku.” Lanjutnya kemudian, aku hanya bisa terdiam dan
berusaha mengatur emosiku, ya Tuhan… aku
masih amat sangat mencintainya.
“aku ingin pulang
sekarang…” kataku tiba-tiba.
“kau bilang tadi ingin
berbicara sesuatu..? tentang apa?” Ia balik bertanya.
“aku hanya ingin
mengucapkan terimakasih” jawabku berbohong, aku ingin memberitahunya tentang
kesehatanku. Dan memintanya menemaniku mengambil hasil labku besok, karena aku
tahu ini sudah tidak mungkin lagi, jadi aku lebih baik tidak memberitahunya.
Aku berdiri dan berjalan menuju ke tangga.
“aku akan
mengantarmu..” ia berdiri dan mengikuti langkahku.
“untuk apa?”
“kau pergi bersamaku
seharian ini, aku ingin kau pulang dalam keadaan baik-baik saja” aku terdiam
mendengar ucapannya.
Apa aktingku terlalu bagus?
Sampai ia tak tahu bahwa aku sekarat. Terlambat, aku sudah tidak baik-baik saja
sejak ia katakan hubungan kita usai. Aku menuruni tangga dalam diam. Berpikir
keras bagaimana seharusnya ini, jika aku turut pulang dengan berada di
boncengannya maka aku akan berakhir menangis, memeluk punggungnya dan
tersedu-sedu seperti anak kecil kehilangan permen kesukaannya. Dan aku butuh
sesuatu untuk membuatku tetap terjaga, sadar bahwa ini adalah kenyataan yang
harus aku hadapi pada akhirnya. Sesampainya di parkiran ia menyuruhku untuk
naik di boncengannya. Aku menolak dengan alasan hanya ingin pulang berjalan
kaki ke rumah. Ia tetap memaksa aku naik motornya, dan dengan kesal aku
akhirnya memberikan alasan yang kekanak-kanakan.
“ini perkampungan, dan
sudah malam. Jika kau menyalakan sepeda motormu maka orang-orang akan
terganggu. Sudahlah aku lebih baik berjalan kaki saja” kataku kemudian.
“baiklah, aku tetap
akan mengantarmu.” Jawabnya. Saat ia berkata demikian aku sengaja melepas alas
kakiku sehingga aku bertelanjang kaki. Aku butuh merasakan kerikil-kerikil
kecil itu untuk menusuk-nusuk telapak kakiku, agar aku tahu ini nyata dan aku
harus tetap terjaga. Putra terlihat bingung dengan apa yang ku lakukan. Aku
hanya berkata bahwa alas kakiku juga berbunyi sehingga aku melepasnya. Ia hanya
diam dan mengiringi langkahku. Kami berpisah beberapa meter dari halaman rumah.
Aku memandangi punggungnya yang menjauh dari tempatku berdiri. Melihatnya pergi
untuk sekali lagi, dan mungkin tak akan pernah kembali lagi padaku, waktu
pinjamku sudah habis, dan Tuhan mengambil waktu itu kembali. Selama ini aku
tahu IA sudah sangat bermurah hati untuk membuatku merasakan cinta putra. Aku
benar-benar merasa kosong, dan masih saja kebas. Menyakitkan sekali saat aku
ingin menjerit tetapi aku tak bisa, saat ingin menangis namun tak ada air mata
yang bisa keluar, aku ingin menahannya agar tak pergi dariku tapi aku terlalu
mencintainya lebih dari sekedar memenjarakan raga nya disisiku namun hatinya
tidak. Aku bersedih dalam bayangan kepergiannya.
Aku memasuki rumah dengan perlahan. Kulihat ayah dan ibu
sedang berada di ruang keluarga dan menonton televisi, menunggu waktu hitung
mundur untuk akhir tahun yang kurang 45 menit lagi. Aku bergabung bersama
mereka dan tetap diam di tempatku meringkuk. Masih berperang dengan ego untuk
berusaha menahannya pergi, menahannya untuk diriku sendiri. Saat aku tenggelam
dalam perang batinku, aku dengar ibu menanyakan sesuatu.
“ibu kira kau menunggu
waktu hitung mundur di taman bersama tika? Kenapa pulang duluan?” aku langsung
merespon pertanyaan ibu dengan jawaban dan nada senormal mungkin, agar ibu tak
tahu bahwa aku sedang shock.
“aku takut ibu dan ayah
marah aku sudah seharian berada di luar rumah, apa masih boleh aku keluar
bersama Tika? Dan menginap di tempatnya? Besok kan masih libur?”
“baiklah, asalkan Tika
menjemputmu” ayah menjawab pasti
“tentu ayah
terimakasih..” aku meninggalkan mereka berdua, mengambil tasku dan mengetik
sebuah pesan singkat pada tika. Aku ingin berjalan-jalan sebentar di luar
sendirian. Aku berkata bahwa mungkin aku akan ke tempatnya nanti, dan kemudian
tika menjawab iya.
Lalu aku memutuskan kenapa aku tidak mencoba untuk sekali
saja serakah dan menahannya. Mempertahankan apa yang sudah kita rajut selama
ini. Aku berlari kembali ke sekolah, terhuyung-huyung menuju atap sekolah,
tempat putra memutuskanku. Aku mendapati tempat itu kosong dan gelap gulita.
Hanya tempat kita duduk tadi yang masih ada penerangannya. Aku menuju kesana
dan duduk termenung. Putra tidak kembali kesini, dan aku sudah kehilangan dia.
Bahuku merosot dan aku terduduk di bangkunya. Aku merasa sangat sendiri, dan
kalah. Aku tidak melakukan apapun saat putra pergi, seharusnya aku menjerit
untuk menahannya, seharusnya aku marah dan menamparnya karena dengan seenaknya
dia berkata hubungan kita usai begitu saja. Tetapi aku tidak melakukan apapun.
Dan putra terlalu naïf, ia membuatku tersenyum bahagia hari ini hanya agar aku
siap menerima kata-katanya. Dia sungguh tidak adil. Dan dia pergi. Aku
merasakan air mata turun tak terbendung dari sudut mataku yang lelah. Aku
tersedu-sedu untuk dia yang meninggalkanku lagi disaat aku membutuhkannya. Lalu
kemudian langit pun ikut serta mengkhianatiku. Rupanya tahun baru sudah di
mulai, ribuan kilau kembang api bergemeretak menghiasi langit yang penuh
bintang. Hanya aku sendiri disini, menangisi kisah cintaku yang berakhir. Bunyi
terompet riuh rendah membunyikan kegembiraan, namun hanya aku yang tergugu
disini sendiri, menikmati kesakitan patah hatiku seorang diri, mencoba menerima
kekalahan dan akhir kisah cintaku yang selalu aku elu-elukan, lalu whine chime
bergemerincing membunyikan salam angin. Membuaiku hingga jatuh tertidur di
kolong langit sambil memeluk kesedihanku yang baru saja termulai kembali.
******************************************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar