Referral Banners

Rabu, 26 Februari 2014

KOMA

..............
...............

“kau ingin kemana lagi setelah ini?”
“apa?”  tanyaku tak mengerti, dari tadi putra sibuk bertanya aku ingin kemana.
“katanya kangen? Setelah ini mau kemana lagi? Apa yang kau inginkan untuk kita lakukan selanjutnya?”
“bukankah ini sudah terlalu malam? Hampir pukul 10 malam. Yah, memang benar aku di ijinkan keluar denganmu hari ini. Tapi bukankah masih ada esok? Besok dan seterusnya? Kita masih punya banyak waktu dan rencana untuk di jalankan. Sekarang aku hanya ingin disini sebentar. Sudah lama kita tidak berada disini saat senja, atau saat yang lainnya.” Aku terus saja mengoceh tanpa melihat putra yang sudah duduk bersandar di belakangku.
Aku melihat langit jernih yang bertabur bintang-bintang. Ia diam melihat tingkahku. Hari ini dia terus memperhatikanku, bahkan sempat tertangkap basah melihatku diam-diam. Apa dia rindu padaku? Atau apa ia menyimpan sesuatu dariku? atau dia tahu aku sedang sakit? Aku sama sekali tidak punya waktu untuk mengingat bahwa aku ingin bertanya perihal kedatangannya yang sudah seminggu lalu ke kota ini tetapi baru memberi tahuku kemarin senja.
Whine chime bergemerincing indah ketika angin tiba-tiba berhembus dengan pelan. Lalu begitu saja aku teringat tentang hasil lab kesehatanku yang akan aku ambil besok, entah apapun hasilnya aku hanya bisa berdoa yang terbaik dan pasrah kepadaNYA. Aku belum memberitahu putra bahwa dua minggu lalu aku sakit dan harus dirawat selama beberapa hari di rumah sakit, dan aku juga belum memberitahunya tentang cek lab itu. Aku rasa ini saatnya aku untuk memberitahunya. 
“aku ingin memberitahumu sesuatu” katanya kemudian. Aku terkejut ia dapat menyuarakan apa yang sedang aku pikirkan.
“aku juga..” sahutku menimpali keinginan kami yang tercetus bersamaan, atau mungkin hanya perasaanku. Karena ia sepertinya telah menyiapkan semuanya, dan aku tidak.
“kau dulu saja.. “ tambahku. Ia menarik nafas dengan berat, dan kemudian mulai bicara.
“tentang hubungan kita.. kita tidak bisa terus seperti ini..” katanya
“maksudnya?” sahutku tak mengerti, aku merasa hubungan kita baik-baik saja.
“kita sudah jarang berhubungan, kau juga sudah sering tidak menghubungiku juga..aku ingin bertanya, dan dulu sekali aku juga sudah pernah bertanya. Apakah jika kita sudah tidak sejalan, kau akan terus memaksakan untuk bersama? Atau apakah jika antara aku atau kau sudah tidak mencintai yang lainnya, kita akan terus memaksakan bersama?”
            Aku limbung dengan pertanyaan dan pernyataannya. Aku sungguh tidak mendapatkan ide tentang apakah ini semuanya? Aku yakin hubungan kita baik-baik saja, kecuali beberapa mimpi burukku tentang aku yang tengah berdiri sendiri di sebuah jalan yang gelap, dan dua minggu lalu sepulang aku dari rumah sakit, aku meneleponnya karena ingin memberi kabar namun yang terjadi aku berakhir berkata bahwa aku masih sangat menyayanginya dan tidak mau kehilangannya, saat itu dia hanya bilang mengerti tentang perasaanku namun tak membalas perkataanku. Bukankah kau yang bilang seharusnya kita tidak terlalu sering menelepon atau bertemu agar tidak terjadi hal-hal yang menyalahi aturan? Kenapa ini semua seakan berbalik kepadaku?,
“jawab aku..” dia bekata pelan seolah putus asa. Dan aku menganggukkan kepalaku, pertanda setuju, saat sadar bahwa mungkin ia tak melihatku, aku buru-buru menambahkan dalam ucapanku.
“iya, kau sudah pernah bertanya seperti itu. Dan jawabanku tetap sama. Walaupun aku mencintaimu, tapi saat kau tidak, aku tidak akan menahanmu karena itu hanya akan menyakitimu. Dan soal telepon, bukankah kita sepakat untuk tidak terlalu sering menelepon satu sama lain?”
“kita sudah tidak bisa bersama-sama lagi.. kita lebih cocok sebagai adik kakak yang saling menjaga..” aku mendengarnya berkata hati-hati. Seperti ada ribuan jarum yang tiba-tiba menusuk-nusuk di dadaku. Aku tidak bisa menangis, pun aku tak bisa tertawa. Aku tahu aku akan segera kehilangannya, aku bingung, aku tak ingin menahannya hanya untuk membuatnya sakit. Tapi aku mencintainya, amat sangat masih menyayanginya, aku masih membutuhkannya untuk diriku sendiri. Aku kebas oleh perasaan kaget yang bertubi-tubi. 
“kenapa..?” aku berkata serak. Namun aku tahu tak akan mendapatkan jawaban dari pertanyaanku, aku ingin bertanya apakah kau sudah tidak mencintaiku lagi? Namun aku terlalu takut untuk mendengar jawaban yang tidak kuinginkan, aku tidak sesiap yang putra bayangkan untuk mendapat yang lebih dari ini semua.
“apa tidak ada jalan untuk kau kembali lagi denganku?”
“aku tidak tahu, kita tidak tahu jalan ke depan seperti apa..jika Tuhan memberikan jalan kembali, tentu aku akan kembali” ia memberiku jawaban yang skeptis. Tapi kau tak akan mengusahakan kita kembali? Batinku menjerit tidak terima dengan ketidaknyamanan kenyataan yang sedang aku hadapi. Ya Tuhan, ia sudah tak mencintaiku lagi.. batinku mendengus sedih. Aku hanya bisa diam, aku perlu untuk selalu ingat bernafas dan tetap sadar untuk mendengar kata apa lagi yang akan putra katakan.
“berbaliklah, aku perlu melihatmu baik-baik saja, kenapa kau tetap diam?” kata putra kemudian. Apa kau sejahat itu sekarang? Perlu untuk melihatku baik-baik saja? Apa tak pernah terpikirkan olehmu kata apa yang sudah kau ucapkan dan masih berharap aku baik-baik saja? Baik-baik saja seperti apa yang kau maksud? Tidak menangis, tidak menjerit? Tetap tenang dan tersenyum? Akan aku lakukan apapun yang kau ingin dan butuh lihat dariku, lagi pula hanya itu yang tersisa untukku. Aku berbalik dan menuju ke arahnya, duduk bersamanya, tetap tenang seperti apa yang ia ingin lihat, aku sudah kebas.
“apa kau akan tetap menahanku..?”
“tidak..” jawabku dengan berat hati. Aku tidak sanggup menatapnya, aku begitu mencintainya, percaya dengan segenap apa yang ku miliki, tetapi yang ia lakukan adalah meninggalkanku, aku pikir aku bisa apa?. Aku menunduk dalam-dalam, berusaha meneguhkan hati oleh apa yang akan terjadi kemudian.
“aku ingin kita tetap berteman, tetap mendoakan satu sama lain. Tetap menyapa ketika kita saling bertemu. Terimakasih sudah pernah menjadi bagian dari hidupku. Maafkan aku yang selalu banyak salah. Aku tidak ingin ke depannya, jika memang tidak ada jalan untuk kita kembali bersama-sama lalu kita menjadi musuh.”
“aku mengerti..” jawabku. Bodoh.. aku sama sekali tidak akan pernah lupa untuk berdoa demi kebahagianmu..karena aku mencintaimu, cinta pertamaku. Sesakit apapun ini, kau sudah menjadi lilin dalam hatiku, yang cahayanya tak akan kubiarkan padam walau kau akhirnya pergi dariku.. jeritku dalam hati.
“aku yakin kau akan lebih baik jika tidak bersamaku. kau tidak akan membutuhkanku. Kau sudah jauh lebih kuat, lebih pandai, dan yang terpenting kau sudah jauh lebih bisa tanpaku, disaat ada orang yang masih membutuhkanku. kau tahu dimana kau dapat menemuiku jika membutuhkanku.” Lanjutnya kemudian, aku hanya bisa terdiam dan berusaha mengatur emosiku, ya Tuhan… aku masih amat sangat mencintainya.
“aku ingin pulang sekarang…” kataku tiba-tiba.
“kau bilang tadi ingin berbicara sesuatu..? tentang apa?” Ia balik bertanya.
“aku hanya ingin mengucapkan terimakasih” jawabku berbohong, aku ingin memberitahunya tentang kesehatanku. Dan memintanya menemaniku mengambil hasil labku besok, karena aku tahu ini sudah tidak mungkin lagi, jadi aku lebih baik tidak memberitahunya. Aku berdiri dan berjalan menuju ke tangga.
“aku akan mengantarmu..” ia berdiri dan mengikuti langkahku.
 “untuk apa?”
“kau pergi bersamaku seharian ini, aku ingin kau pulang dalam keadaan baik-baik saja” aku terdiam mendengar ucapannya.
Apa aktingku terlalu bagus? Sampai ia tak tahu bahwa aku sekarat. Terlambat, aku sudah tidak baik-baik saja sejak ia katakan hubungan kita usai. Aku menuruni tangga dalam diam. Berpikir keras bagaimana seharusnya ini, jika aku turut pulang dengan berada di boncengannya maka aku akan berakhir menangis, memeluk punggungnya dan tersedu-sedu seperti anak kecil kehilangan permen kesukaannya. Dan aku butuh sesuatu untuk membuatku tetap terjaga, sadar bahwa ini adalah kenyataan yang harus aku hadapi pada akhirnya. Sesampainya di parkiran ia menyuruhku untuk naik di boncengannya. Aku menolak dengan alasan hanya ingin pulang berjalan kaki ke rumah. Ia tetap memaksa aku naik motornya, dan dengan kesal aku akhirnya memberikan alasan yang kekanak-kanakan.
“ini perkampungan, dan sudah malam. Jika kau menyalakan sepeda motormu maka orang-orang akan terganggu. Sudahlah aku lebih baik berjalan kaki saja” kataku kemudian.
“baiklah, aku tetap akan mengantarmu.” Jawabnya. Saat ia berkata demikian aku sengaja melepas alas kakiku sehingga aku bertelanjang kaki. Aku butuh merasakan kerikil-kerikil kecil itu untuk menusuk-nusuk telapak kakiku, agar aku tahu ini nyata dan aku harus tetap terjaga. Putra terlihat bingung dengan apa yang ku lakukan. Aku hanya berkata bahwa alas kakiku juga berbunyi sehingga aku melepasnya. Ia hanya diam dan mengiringi langkahku. Kami berpisah beberapa meter dari halaman rumah. Aku memandangi punggungnya yang menjauh dari tempatku berdiri. Melihatnya pergi untuk sekali lagi, dan mungkin tak akan pernah kembali lagi padaku, waktu pinjamku sudah habis, dan Tuhan mengambil waktu itu kembali. Selama ini aku tahu IA sudah sangat bermurah hati untuk membuatku merasakan cinta putra. Aku benar-benar merasa kosong, dan masih saja kebas. Menyakitkan sekali saat aku ingin menjerit tetapi aku tak bisa, saat ingin menangis namun tak ada air mata yang bisa keluar, aku ingin menahannya agar tak pergi dariku tapi aku terlalu mencintainya lebih dari sekedar memenjarakan raga nya disisiku namun hatinya tidak. Aku bersedih dalam bayangan kepergiannya.
            Aku memasuki rumah dengan perlahan. Kulihat ayah dan ibu sedang berada di ruang keluarga dan menonton televisi, menunggu waktu hitung mundur untuk akhir tahun yang kurang 45 menit lagi. Aku bergabung bersama mereka dan tetap diam di tempatku meringkuk. Masih berperang dengan ego untuk berusaha menahannya pergi, menahannya untuk diriku sendiri. Saat aku tenggelam dalam perang batinku, aku dengar ibu menanyakan sesuatu.
“ibu kira kau menunggu waktu hitung mundur di taman bersama tika? Kenapa pulang duluan?” aku langsung merespon pertanyaan ibu dengan jawaban dan nada senormal mungkin, agar ibu tak tahu bahwa aku sedang shock.
“aku takut ibu dan ayah marah aku sudah seharian berada di luar rumah, apa masih boleh aku keluar bersama Tika? Dan menginap di tempatnya? Besok kan masih libur?”
“baiklah, asalkan Tika menjemputmu” ayah menjawab pasti
“tentu ayah terimakasih..” aku meninggalkan mereka berdua, mengambil tasku dan mengetik sebuah pesan singkat pada tika. Aku ingin berjalan-jalan sebentar di luar sendirian. Aku berkata bahwa mungkin aku akan ke tempatnya nanti, dan kemudian tika menjawab iya.
            Lalu aku memutuskan kenapa aku tidak mencoba untuk sekali saja serakah dan menahannya. Mempertahankan apa yang sudah kita rajut selama ini. Aku berlari kembali ke sekolah, terhuyung-huyung menuju atap sekolah, tempat putra memutuskanku. Aku mendapati tempat itu kosong dan gelap gulita. Hanya tempat kita duduk tadi yang masih ada penerangannya. Aku menuju kesana dan duduk termenung. Putra tidak kembali kesini, dan aku sudah kehilangan dia. Bahuku merosot dan aku terduduk di bangkunya. Aku merasa sangat sendiri, dan kalah. Aku tidak melakukan apapun saat putra pergi, seharusnya aku menjerit untuk menahannya, seharusnya aku marah dan menamparnya karena dengan seenaknya dia berkata hubungan kita usai begitu saja. Tetapi aku tidak melakukan apapun. Dan putra terlalu naïf, ia membuatku tersenyum bahagia hari ini hanya agar aku siap menerima kata-katanya. Dia sungguh tidak adil. Dan dia pergi. Aku merasakan air mata turun tak terbendung dari sudut mataku yang lelah. Aku tersedu-sedu untuk dia yang meninggalkanku lagi disaat aku membutuhkannya. Lalu kemudian langit pun ikut serta mengkhianatiku. Rupanya tahun baru sudah di mulai, ribuan kilau kembang api bergemeretak menghiasi langit yang penuh bintang. Hanya aku sendiri disini, menangisi kisah cintaku yang berakhir. Bunyi terompet riuh rendah membunyikan kegembiraan, namun hanya aku yang tergugu disini sendiri, menikmati kesakitan patah hatiku seorang diri, mencoba menerima kekalahan dan akhir kisah cintaku yang selalu aku elu-elukan, lalu whine chime bergemerincing membunyikan salam angin. Membuaiku hingga jatuh tertidur di kolong langit sambil memeluk kesedihanku yang baru saja termulai kembali.
******************************************

Tidak ada komentar:

Posting Komentar